Jumat, 27 Juni 2008

Kaki Panjang Bikin Seksi

SETIAP orang di dunia ini diciptakan berbeda, termasuk dalam hal ukuran dan bentuk tubuh. Perbedaan ini sebenarnya tidaklah menjadi esensi tetapi sering kali kemudian memunculkan stereotipe tentang keindahan dan idealisme bentuk tubuh seseorang.

Tinggi badan dan ukuran panjang kaki, misalnya, sering menjadi patokan dalam ideal atau tidaknya postur tubuh. Banyak yang menganggap kaki panjang merupakan anugerah karena lebih enak dipandang dan membuat penampilan lebih seksi. Demikian pula halnya dengan orang bertubuh tinggi yang secara umum dinilai lebih menarik.

Tetapi apakah anggapan itu benar-benar berlaku dan memengaruhi penilaian seseorang? Boguslaw Pawlowski dan Piotr Sorokowski dari Universias Wroclaw di Polandia melakukan riset untuk mengetahui apakah panjang kaki memengaruhi persepsi terhadap orang lain.

Pawlowski melibatkan 218 pria dan wanita yang diminta membuat rata-rata daya tarik tujuh laki-laki dan tujuh perempuan dalam gambar. Semua sosok dalam gambar memiliki tinggi yang sama, namun panjang kakinya bervariasi dengan selisih lebih sekitar 5, 10 dan 15 persen dari kebanyakan orang Polandia. Pawlowski dan timnya juga mengukur proporsi tubuh para partisipan.

Tanpa memedulikan penampilan dirinya, para partisipan ternyata lebih menyukai sosok yang kakinya 5 persen lebih panjang dari rata-rata normal (bertanda merah dalam gambar). Sosok berikut yang disukai adalah pria atau wanita dengan ukuran panjang kaki normal, dan yang kakinya 10 persen lebih panjang (bertanda biru).

"Kaki yang panjang memang menandakan kesehatan," ungkap Pawlowski yang memublikasikan risetnya dalam jurnal Evolution and Human Behaviour.

Ia juga menekankan bahwa kaki yang pendek berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, pembuluh darah, dan diabetes tipe II baik pada pria maupun wanita. Kaki pendek juga ada kaitannya dengan kadar tinggi trigliserida, yang memicu timbulnya aterosklerosis, penyakit jantung, dan stroke, dan resistensi insulin pada pria

Meskipun studi ini hanya terbatas pada orang Polandia, Pawlowski menduga setiap budaya akan cederung lebih menyukai sosok dengan kaki yang sedikit lebih panjang dibanding rata-rata normal pada komunitasnya.

Mempersiapkan Kebugaran Sebelum Menua

”Sering lupa mendera kita/ Sehingga mulai pikun sewaktu kita berbicara.../ tetapi semua ini, adalah gejala lanjut usia/ Jangan mengeluh, jangan putus asa//”

ITULAH petikan puisi yang dibaca Ny Herawati Diah yang berusia 91 tahun pada tanggal 5 April lalu. ”Itu sajak yang dikarang kawan saya yang menggambarkan bagaimana sesungguhnya seorang yang menginjak usia tua menjalani hidupnya,” kata Ny Diah.

Wartawati itu membagi pengalaman bagaimana tetap bugar, gesit pergi ke berbagai tempat, tidak banyak jenis makanan yang dipantang, dan tetap melakukan aktivitas intelektual. Pengalaman itu disampaikan Ny Diah dalam diskusi tentang hidup berkualitas bagi lanjut usia (lansia) yang diadakan majalah Family’s Doctor di Jakarta, Kamis (12/6).

”Selalu optimistis meskipun sedang mengalami susah. Hidup itu pendek, karena nikmati dan selalu bersyukur,” tambah Ny Diah.

Hidup dengan pikiran positif, penuh optimisme memang merupakan kunci hidup sehat dan berkualitas. Tetapi, sikap itu perlu dibarengi dengan pemeliharaan kesehatan sejak dini. Adagium memelihara kesehatan lebih daripada mengobati berlaku di sini. Apalagi, biasanya gangguan kesehatan yang mengenai lansia bersifat degeneratif yang dapat menghabiskan biaya banyak dan menghabiskan waktu untuk menyembuhkan.

Antipenuaan
Angka statistik Indonesia memperlihatkan usia harapan hidup yang meningkat. Artinya, orang Indonesia semakin berusia panjang.

Tentu saja ukuran kesejahteraan tidak melulu berusia panjang. Yang diharapkan tentu saja para lansia dapat melalui hari-hari tuanya dengan berkualitas. Tetap aktif dan tetap berguna untuk dirinya dan lingkungannya sehingga ada harga tinggi dan rasa sejahtera melalui hari-hari tua.

Beruntung ilmu pengetahuan terus berkembang sehingga pengetahuan mengenai usia lanjut juga berkembang, terutama ketika masalah kesehatan, sosial, ekonomi, dan politik juga berubah cepat.

Dalam diskusi, dr Phaidon L Toruan MM dari Jakarta Anti-Aging Center menjelaskan, terjadi perubahan dalam memandang kesehatan lansia.

Dalam pengobatan konvensional, pendekatan yang dipakai adalah memperpanjang umur lansia yang dalam keadaan mengalami gangguan kesehatan (morbiditas), sedangkan pendekatan terbaru adalah menghambat penuaan (anti-aging).

Tujuan pendekatan anti-aging adalah memperpanjang vitalitas lansia dan menekan morbiditas. Vitalitas diusahakan berada mendekati optimum karena vitalitas optimum sampai saat ini masih menjadi milik mereka yang berusia di atas 40 tahun. Berdasarkan statistik, rata-rata vitalitas akan menurun setelah memasuki usia 40 tahun.

Menurut dr Toruan, penuaan secara teori, antara lain, disebabkan oleh penurunan hormon dan radikal bebas. Adapun produksi hormon berhubungan dengan fungsi tubuh, radikal bebas dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain sinar matahari, stres, polusi, sinar X dari rontgen, radiasi telepon seluler, perjalanan dengan pesawat, pengawet makanan, bahan kimia lingkungan, pembersih rumah tangga, dan rokok.

Memelihara kebugaran
Memelihara kebugaran adalah salah satu cara memelihara kehidupan yang berkualitas pada usia lanjut.

Salah satu cara memelihara kebugaran adalah mengurangi lemak. Lemak memang diperlukan dalam metabolisme tubuh, tetapi sudah menjadi pengetahuan umum lemak yang berlebih justru menjadi masalah. Bukan hanya dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, hipertensi, atau diabetes melitsus, lemak yang berlebih juga memberi beban yang tak perlu untuk tubuh.

Ketika usia bertambah, persendian kaki yang menopang tubuh berkurang pula kekuatan dan kelenturannya. Beban tambahan dari lemak yang berlebih dapat mengurangi kualitas persendian.

Ada beberapa cara mengurangi lemak, seperti mengurangi pasokan makanan yang berlebih dan harus dihindari. Namun, cara itu saja tidak cukup.

Menurut dr Phaidon, olahraga memberi pengaruh yang nyata untuk memelihara kebugaran tubuh ketika dikombinasi dengan terapi penggantian hormon.

Hormon yang perlu ditingkatkan, menurut dr Toruan, adalah hormon testosteron karena hormon ini memengaruhi pembentukan massa otot. Menurut dr Toruan, penelitian oleh Prof Dr Eulis A Datau SpPD,KAI, dari Universitas Sam Ratulangi, memperlihatkan jintan hitam (Nigella sativa) dapat meningkatkan testosteron bebas, yaitu hormon anabolik alami.

Olahraga yang diperlukan bukan semata-mata yang bersifat aerobik. Olahraga beban juga baik untuk memelihara otot dan mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis) yang biasa menyertai penuaan.

”Olahraga beban itu membakar gula sehingga juga baik untuk penderita diabetes melitus. Saya mendorong ibu saya untuk melakukan olahraga beban. Hasilnya, gula darah terkontrol dan massa ototnya juga terjaga,” kata dr Toruan.

Terus Gunakan Otak

CARA untuk memelihara kebugaran pada usia lanjut adalah memelihara sikap positif dan menjalani gaya hidup sehat.

Ny Herawati Diah yang masih tetap aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, walaupun usianya mencapai 91 tahun pada April lalu, mengatakan, kunci untuk menjalani kehidupan lanjut usia (lansia) adalah terus menggunakan otak untuk berpikir. ”Apa yang tidak kita pakai akan hilang,” kata Ny Diah.

Hidup harus optimistis meski negara sedang kacau-balau atau cucu tidak naik kelas, atau sedang kena musibah. Karena hidup itu pendek, menikmati dan selalu bersyukur amat penting. ”Jangan selalu melihat ’ke atas’, tetapi lebih baik lihat ke ’bawah’, di situ kita merasakan keadaan kita jauh lebih baik dari orang lain,” kata Ny Diah. ”Peganglah moto ’don’t stop thinking, don’t stop doing, dan don’t stop loving.”

Ubah karbohidrat

Dalam kehidupan sehari-hari, memerhatikan apa yang dikonsumsi juga membantu memelihara dan mencegah penuaan. Dr Phaidon Toruan, MM, dalam diskusi mengenai lansia yang diadakan majalah Family’s Doctor memberi sejumlah saran.

1. Menukar jenis karbohidrat dari jenis sederhana seperti yang terdapat pada nasi putih, roti putih, gula pasir, mi instan, dan kue-kuean, ke karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, gula diet, pasta, dan kacang-kacangan.

2. Konsumsi lemak sehat guna kesehatan pembuluh darah. Lemak dibutuhkan tubuh untuk membentuk dinding sel yang sehat, membangun sistem kekebalan tubuh yang sehat, dan bahan baku testosteron.

Lemak sehat terdapat, antara lain, pada avokad, minyak zaitun, minyak kanola, dan minyak kedelai. Minyak yang harus dihindari adalah semua minyak gorengan.

3. Konsumsi antioksidan untuk melawan radikal bebas. Antioksidan terdapat dalam buah-buahan dan sayuran.

4. Minum cukup air. Air sangat penting untuk tubuh karena air menyusun 75% otot, 82% darah, 90% paru-paru, dan 25% tulang. Air juga memelihara kualitas jaringan, kinerja dan ketahanan terhadap cedera.

Akan lebih optimal bagi lansia untuk meminum air tanpa mineral karena mineral anorganik pada air menyebabkan tubuh bekerja lebih keras hanya untuk membuang mineral yang tidak dibutuhkan tubuh. Sebagai pengganti sumber mineral, lansia dapat mengonsumsi sayuran dan buah.

Siapkanlah, Agar Hari Tua Bahagia

SALAH satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya usia harapan hidup manusia Indonesia. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka populasi penduduk lanjut usia juga akan mengalami peningkatan secara bermakna. Pada tahun 2010, diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia sebesar 24 juta jiwa atau 9,77 persen dari total jumlah penduduk.

Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Budihardja pada seminar sehari bertema Lanjut Usia Sehat dan Mandiri di Tengah Masyarakat , Selasa (17/6), di Jakarta, menyatakan, dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) Depkes diharapkan usia harapan hidup meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,6 tahun pada tahun 2009 nanti.

Namun, peningkatan jumlah penduduk lansia diperkirakan akan diikuti dengan meningkatnya permasalahan kesehatan seperti masalah kesehatan indera pendengaran dan penglihatan dan kesehatan jiwa. Oleh karena itu, para lansia, keluarga, organisasi sosial, masyarakat dan dunia usia diharapkan dapat termotivasi dan tergerak untuk meningkatkan kesejahteraan lansia dengan mengembangkan jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial.

Pada lansia, lanjut Budihardja, terjadi kemunduran sel-sel lantaran proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, sosial dan membebani perekonomian baik pada lanjut usia maupun pemerintah karena masing-masing penyakit itu perlu dana untuk terapi dan rehabilitasi.

Untuk itu, rencana hidup seharusnya sudah dirancang jauh sebelum memasuki masa lanjut usia, paling tidak individu sudah punya bayangan aktivitas apa yang akan dilakukan kelak sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Diharapkan, para lansia melakukan pola hidup sehat yakni dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, beraktivitas fisik atau olahraga secara teratur dan tidak merokok.

Sejauh ini, pemerintah, dalam hal ini Depkes, telah merumuskan berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang dapat menunjang derajat kesehatan serta mutu kehidupan lansia. Program pokok kesehatan menanamkan pola hidup sehat dengan memprioritaskan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, tanpa mengabaikan upaya pengobatan atau kuratif dan rehabilitatif. "Pelayanan bagi lansia miskin diupayakan untuk dapat diberikan gratis," kata Budihardja.

Melalui program kesehatan lansia, derajat kesehatan lansia dapat ditingkatkan agar tetap sehat, mandiri dan berdaya guna sehingga tidak jadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat. Kita mengenal konsep successful aging yaitu keadaan lansia yang tercegah dari berbagai penyakit serta tetap berperan aktif dalam kehidupan dan memelihara fungsi fisik serta kognitif tinggi, ujarnya.

Hal ini berarti, para lansia masih dapat bekerja secara aktif terutama pada sektor informal, berbagi pengalaman dalam kebijaksanaan pendalaman spiritual dan kehidupan, serta mengoptimalkan kesempatan dalam keikutsertaan program kesehatan dan kes ejahteraan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup usia lanjut.

Dengan makin berkembangnya pengetahuan yang mempelajari tentang lansia (ilmu geriatri) melalui upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif, dengan sendirinya telah diupayakan agar para lansia dapat menikmati masa tua yang bahagia dan berguna. Dengan demikian, aspek-aspek yang dapat dikembangkan adalah upaya pencegahan agar proses menua dapat diperlambat, sebaliknya yang merasa sudah tua perlu dipulihkan agar tetap mampu mengerjaka n kehidupan sehari-hari secara mandiri.

Dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lansia yang dilaksanakan Komisi Nasional Lansia di 10 provinsi tahun 2006, diketahui bahwa penyakit terbanyak yang diderita lansia adalah penyakit sendi, hipertensi, anemia dan katarak. Penyakit-penyakit itu merupakan penyebab utama disabilitas atau ketidakmampuan pada lansia.

Gaya Hidup Sehat Ubah Gen Anda Makin Sehat

PERUBAHAN gaya hidup yang komprehensif termasuk diet yang lebih baik dan latihan fisik dengan takaran lebih dari biasa dapat meningkatkan tak hanya stamina dan kebugaran tubuh melainkan juga membawa perubahan besar yang dramatis pada tingkat genetik. Demikian diungkapkan para ilmuwan dari Amerika Serikat, Senin (16/6).

Dalam sebuah penelitian kecil, para ilmuwan ini meneliti sekitar 30 pria yang menderita kanker prostat dan memutuskan untuk tidak menjalankan pengobatan medis konvensional seperti bedah, radiasi atau terapi hormon.

Para pria ini menjalani tiga bulan perubahan gaya hidup yang cukup berarti antara lain dengan menjalani pola diet kaya buah, sayur, biji-bijian, produk kedelai, polong-polongan, latihan fisik yang moderat seperti berjalan kaki selama sejam setiap hari, manajemen stres selama sejam setiap hari dengan melakukan meditasi.

Seperti yang diharapkan, mereka berhasil menurunkan berat badan, tekanan darah dan menaik tingkat kesehatannya. Namun, lebih dari itu, para ilmuwan ini menemukan perubahan yang sangat berarti saat melakukan biopsi (pengambilan contoh jaringan) prostat sebelum dan sesudah perubahan gaya hidup.

Setelah tiga bulan, perubahan gaya hidup ini membawa perubahan aktivitas pada sekitar 500 gen--termasuk 48 gen yang aktif dan 453 gen yang kurang aktif.

Aktivitas gen yang mencegah timbulnya penyakit meningkat sementara sejumlah gen-gen yang meningkatkan timbulnya penyakit termasuk di dalamnya kanker prostat dan kanker payudara, justru tidak aktif. Demikian hasil penelitian ini diungkapkan dalam Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Riset yang dipimpin oleh Dr. Dean Ornish, kepala Preventive Medicine Research Institute di Sausalito, California dan seorang penulis yang mempromosikan pentingnya perubahan gaya hidup bagi kesehatan.

"Ini temuan yang sangat menarik karena makin sering orang bilang, ooh semua ini ada dalam gen-gen saya, apa yang bisa saya lakukan? Jadi, ya Anda bisa melakukan banyak hal,"Ornish yang juga berafiliasi dengan Universitas California, San Fransisco mengatakan demikian di sebuah wawancara per telepon.

"Hanya dalam tiga bulan, saya dapat mengubah ratusan gen dalam tubuh saya dengan cara sederhana dengan apa yang saya makan dan bagaimana saya hidup. Benar-benar luar baisa," ujar Ornish. "Implikasi dari penelitian kami tak terbatas pada pria dengan kanker prostat."

Ornish mengatakan, para pria yang menghindari pengobatan konvensional untuk mengatasi kanker prostat untuk berbagai alasan dipisahkan dari penelitian ini. Namun, dalam membuat keputusan ini, mereka memperbolehkan para peneliti untuk melakukan biopsi sebelum dan sesudah menjalan i perubahan gaya hidup.

"Ini memberi kami kesempatan untuk mendapatkan alasan etis untuk melakukan biopsi lagi dalam waktu tiga bulan ke depan karena mereka membutuhkannya untuk melihat perubahan klinis (pada kanker prostat)," jelas Ornish.

Sarapan Kenyang Bantu Turunkan Berat Badan

SARAPAN pagi bukan saja sangat penting untuk pola hidup yang lebih sehat. Kebiasaan makan pagi yang sehat dan berkualitas ternyata juga dapat membantu keberhasilan program penurunan berat badan.

Sebuah penelitian mengindikasikan, sarapan dengan porsi karbohidrat tinggi menjadi unsur penting bagi keberhasilan seseorang yang sedang menjalani program penurunan berat badan (dieters) .

Seperti dilaporkan BBC, Kamis (19/6), hasil pemantauan terhadap wanita pengidap obesitas menunjukkan bahwa mereka yang menghabiskan setengah dari jatah kalori harian saat sarapan pagi mencapai hasil lebih memuaskan ketimbang rekannya yang mendapat sedikit kalori saat sarapan.

Peneliti dari Virginia Commonwealth University Amerika Serikat, Dr Daniela Jakubowicz, pada sebuah konferensi di San Francisco belum lama ini mengungkapkan hasil riset bahwa sarapan dengan porsi kalori rendah diyakini akan memicu rasa lapar.

Dr Jakubowicz sendiri telah merekomendasikan sarapan sehat dengan tinggi karbohidat kepada para pasiennya selama 15 tahun. Ia lalu membandingkannya dengan dengan sarapan rendah karbohidrat pada 96 wanita pengidap obesitas yang kurang aktif dalam beraktivitas.

Para wanita yang diberi sarapan rendah karbohidrat dipatok total jatah kalori hariannya hingga 1.085 kalori - dengan mayoritas sumbernya berasal dari protein dan lemak. Sarapan pada kelompok ini merupakan makan dengan asupan kalori terendah dalam sehari - yakni hanya 290 kalori dengan tujuh gram karbohidrat.

Sementara itu wanita denga sarapan tinggi kalori dijatah total kalori hariannya hingga 1.240 - denganporsi lemak rendah namun tinggi karbohidrat dan protein. Pada kelompok ini, sarapan pagi bernilai 610 kalori dengan 58 gram karbohidrat, makan siang benilai 395 kalori dan makan malam 235 kalori.

Selama empat bulan berjalan, wanita yang menjalani sarapan rendah karbohidrat tampak lebih baik. Berat badan mereka turun rata-rata hingga 28 pon dibanding kelompok tinggi karbohidrat yang hanya turun 23 pon. Namun setelah delapan bulan, situasinya menjadi terbalik di mana kelompok rendah karbohidrat berat badannya rata-rata naik 18 pon sedangkan, kelompok tinggi karbohidart terus mengalami penurunan berat rata-rata 16.5 pon. Kelompok tinggi karbohidrat rata-rata kehilangan seperlima dari total berat badan mereka, sedangkan kelompok rendah karbohidrat hanya kurang dari 5%.

Dominasi serat dan buah
Dr Jakubowicz melaporkan bahwa wanita yang sarapan tinggi karbohidrat mengaku tidak merasa lapar khususnya pada pagi hari . Dengan sarapan yang karbohidrat tinggi akan membuat seseorang lebih merasa kenyang selama seharian, membuat tubuh lebih sehat karena dalam menunya lebih banyak didominasi serat dan buah.

"Kebanyakan riset tentang penurunan berat badan telah menentukan bahwa karbohidrat yang sangat rendah bukanlah metode tepat untuk penurunan berat badan. Itu hanya akan memperburuk rasa lapar serta memperlambat metabolisme. Akibatnya setelah periode yang pendek dari program diet akan terjadi lagi obesitas dalam waktu singkat," ungkapnya.

Sementara itu Dr Alex Johnstone, dari Rowett Research Institute di Aberdeen, menilai diet tinggi karbohidrat hanyalah model yang tak membuat dieters menjadi cepat bosan. Alex mengatakan, meskipun banyak riset lain yang menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat adalah cara terbaik untuk menurunkan berat dalam waktu singkat, namun model ini sulit diterapkan sebagai gaya hidup.

Menurutnya, kemampuan mencapai lagi penurunan berat pada dieters bisa menjadi sebuah tanda monotonnya dua model diet tersebut ketimbang kemampuan dieters untuk mengendalikan rasa lapar.

"Sepertinya memang lebih mudah bagi seseorang untuk menjalani diet tinggi karbohidrat dan menerapkannya dalam waktu yang lebih lama," ujarnya,

Australia Bangsa Paling Gemuk

AUSTRALIA kini menyandang gelar sebagai bangsa paling gemuk dengan populasi warga bertubuh tambun tertinggi mengalahkan Amerika Serikat. Sebuah laporan menyebutkan, sekitar 26 persen orang dewasa di negara itu kini mengalami kelebihan berat badan yang mencolok atau obesitas.

Dalam laporan bertajuk "Australia's Future Fat Bomb, " yang dikeluarkan Baker Heart and Diabetes Institute di Melbourne mengungkapkan, sekitar 4 juta warga Australia pada kelompok usia dewasa kini dikategorikan sebagai kelompok obesitas.

Adanya fakta ilmiah tersebut, menurut Professor Simon Stewart, Direktur Lembaga Pencegahan Penyakit Jantung dapat diartikan bangsa Australia sebagai bangsa paling obes/gemuk mengambil alih posisi Amerika Serikat yang rata-rata obesitasnya mencapai 25 persen.

"Hal itu menjadikan Australia juara 'kelas berat' yaitu kedudukan atau julukan yang tak kita inginkan. Kalau kita ikut dalam Olimpiade kegemukan, kita akan meraih medali emas sebagai atlet paling gemuk di dunia saat ini ," papar Stewart.

Menurut laporan sekitar 1,5 juta warga Australia pada usia paruh baya saat ini berbobot lebih dari rata-rata normal, satu angka yang akan membawa hasil akan adanya tambahan 700 ribu orang yang ditangani atas kasus penyakit yang berkaitan dengan gangguan jantung untuk masa 20 tahun mendatang.

Disebutkan bahwa 70 persen pria dan 60 persen wanita berusia 45 hingga 65 secara teknis dikategorikan obesitas. Secara total, 9 juta orang terlalu gemuk-- atau hampir setengah dari 21 juta populasi -- dan 123.000 berisiko mengalami kematian dini dalam 20 tahun ke depan .

Sebagai akibatnya, pihak -pihak yang bergerak di bidang kedokteran harus bekerja keras mencegah bertambah jumlahnya penderita gangguan jantung, Pemerintah Australia juga harus mengeluarkan biaya ekstra sebesar 3 milyar dolar Australia atau 2,85 milyar dolar AS dalam pengeluaran biaya kesehatan.