Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

Upaya Pencegahan Demam Berdarah


Upaya pencegahan Demam Berdarah. Untuk memutuskan rantai penularan, pemberantasan vektor dianggap sebagai cara yang paling memadai saat ini. Vektor dengue khususnya aedes aegypti sebenarnya mudah di berantas karena sarang-sarangnya terbatas di tempat yang berisi air jernih  dan jarak terbangnya maksimal 100 meter.
Tetapi karena vektor tersebar luas, untuk keberhasilan diperlukan total coverage (meliputi seluruh wilayah) agar nyamuk tidak berkembang biak lagi. (Hendrawan, 1999).


Pemberantasan atau pencegahan demam berdarah secara garis besar dapat dilakukan dengan empat cara yaitu: (Thamrin, 1994).
1)    Pengendalian kimiawi
2)    Pengendalian lingkungan
3)    Pengendalian cara hayati
4)    Pemberantasan vektor cara  genetik.
Cara kimiawi yang lazim dipakai dalam program pemberantasan demam berdarah dengue adalah malathion. Cara penggunaan malathion ini dengan pengasapan (thermal fogging) atau pengabutan (cold fogging). Untuk pemakaian rumah tangga dapat digunakan berbagai jenis insektida yang disemprotkan di dalam ruangan atau kamar. (Hendrawan, 1999).Cara penyemprotan pada dinding–dinding tidak dapat dilakukan oleh karena nyamuk aedes aegypti tidak mempunyai kebiasaan hinggap pada dinding rumah, melainkan pada benda-benda. (Thamrin, 1994).
Pengasapan dengan malathion sangat efektif untuk pemberantasan vektor, namun kegiatan ini tanpa didukung dengan abatisasi, dalam beberapa hari akan meningkatkan kepadatan nyamuk dewasa karena jentik tidak mati dengan pengasapan.
Untuk pemakaian dosis yang digunakan adalah 1ppm (part per million) yaitu setiap 1 gram abate 1% dalam setiap 10 liter air. Abate setelah ditaburkan ke dalam air, maka butiran pasir akan jatuh sampai ke dasar dan racun aktifnya akan keluar serta menempel pada pori-pori dinding tempat air, dengan sebagian masih  tetap berada dalam air.
Tujuan abatisasi adalah untuk menekan kepadatan vektor serendah-rendahnya secara serentak dalam jangka waktu yang lebih lama, agar transmisi virus selama waktu tersebut dapat diturunkan. Sedangkan fungsi abatisasi bisa sebagai pendukung kegiatan fogging yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencegah meningkatnya penderita demam berdarah dengue.
Cara pemberantasan vektor stadium jentik tanpa menggunakan insektida lebih dikenal dengan pemberantasan sarang nyamuk. Kegiatan ini meliputi kegiatan menguras bak mandi, tempayan, dan tempat penampungan air minimal satu kali seminggu karena berkembangnya telur menjadi   nyamuk lamanya tujuh sampai sepuluh hari, menutup rapat tempat  penampungan air dan  benda-benda lain yang memungkinkan nyamuk  berkembang. (Hendrawan, 1994).
Gerakan pemberantasan sarang nyamuk demam   berdarah dengue merupakan kegiatan   masyarakat bersama pemerintah yang dilakukan secara berkesinambungan untuk mencegah dan menanggulangi penyakit demam berdarah dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk ini merupakan bagian dari keseluruhan upaya mewujudkan kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat.
Tujuan gerakan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue adalah membina peran serta masyarakat dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue, terutama dalam memberantas jentik nyamuk.
Sasaran gerakan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue adalah semua keluarga dan pengelola tempat umum. Untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungannya masing-masing sehingga bebas dari jentik-jentik nyamuk aedes aegypti. Melalui gerakan ini diharapkan keluarga dapat berkonsultasi kepada petugas kesehatan jika ada  anggota keluarga sakit dan diduga menderita penyakit demam berdarah dengue, karena menderita penyakit ini perlu segera mendapat pertolongan dan keluarga melaporkan kepada kepala desa atau kelurahan jika ada anggota keluarga yang menderita penyakit demam berdarah dengue serta membantu kelancaran penanggulangan penyakit demam berdarah dengue yang dilakukan oleh petugas kesehatan. (Depkes, RI 1997).
Isolasi pasien agar tidak digigit vektor untuk ditularkan kepada orang lain sulit dilaksanakan lebih awal dari perawatan di rumah sakit. Mencegah gigitan nyamuk dengan cara memakai obat gosok dan pemakaian kelambu, tetapi cara ini di rasa kurang praktis. Imunisasi maupun pemberian anti virus dalam usaha memutuskan mata rantai penularan saat ini baru dalam taraf penelitian. (Hendrawan, 1999).
Penelitian untuk menemukan pengobatan baru dalam hal ini upaya preventif telah dilakukan oleh TDRC (Tropical Diseases Research Center) di Universitas Airlangga Surabaya. Tim yang dipimpin oleh Prof. dr. Soegeng Soegijanto, SpA(K), DTM&H telah menemukan adanya vaksin demam berdarah. Jenis vaksin ini dapat melawan semua tipe dari virus yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti.(Soegijanto, 2003).


sumber: www. alwanku .com

CIRI-CIRI NYAMUK PENYEBAB PENYAKIT DEMAM BERDARAH



Badan kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih
  1. Hidup di dalam dan di sekitar rumah
  2. Menggigit/menghisap darah pada siang hari
  3. Senang hinggap pada pakaian yang bergantungan dalam kamar
  4. Bersarang dan bertelur di :

  • genangan air jernih di dalam dan di sekitar rumah bukan di got/comberan
  • Di dalam rumah: bak mandi, tampayan, vas bungan, tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain.
Di luar rumah: drum, tangki penampungan air, kaleng bekas, ban bekas, botol pecah, potongan bambu, tempurung kelapa, dan lain-lain.

PENAMPILAN KLINIS INFEKSI VIRUS DENGUE DEMAM DENGUE

Ditandai oleh gejala-gejala klinik berupa demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan.


  1.       Demam
Demam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 derajat celcius) dan dapat disertai dengan menggigil. Begitu mendadaknya, sering kali dalam praktek sehari-hari kita mendengar cerita ibu bahwa pada saat melepas putranya berangkat sekolah dalam keadaan sehat walafiat, akan tetapi pada saat pulang putranya sudah mengeluh panas dan ternyata panasnya langsung tinggi. Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain. Demam ini hanya berlangsung untuk 5-7 hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis), dan disertai dengan berkeringat banyak, dimana anak tampak agak loyo. Kadang-kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun ditengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas sebagai punggung unta).
  1.        Nyeri seluruh tubuh
Dengan timbulnya gejala panas pada penderita infeksi virus dengue maka akan segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Karena adanya gejala nyeri ini sehingga di kalangan masyarakat awam ada istilah flu tulang. Dengan sembuhnya penderita gejala-gejala nyeri pada seluruh tubuh ini juga akan hilang.
  1.        Ruam
Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada saat awal panas yang berupa ~flushing~ yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Kadang-kadang ruam yang seperti campak ini hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan/kaki.
  1.        Perdarahan
Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis demam berdarah dengue selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini muncul setelah dilakukan test tourniquet. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang masif yang dapat berakhir dengan kematian. Berkaitan dengan tanda perdarahan ini, perlu dikemukakan bahwa pada anak-anak tertentu diketahui oleh orang tuanya bahwa apabila anaknya menderita panas selalu disertai dengan perdarahan hidung (epistaksis). Dalam dunia kedokteran hal tersebut diatas dikenal sebagai habitual epistaksis, sebagai akibat kelainan yang bersifat sementara dari komponen beku darah yang disebabkan oleh segala bentuk infeksi (tidak hanya oleh virus dengue). Pada keadaan lain ada penderita anak yang apabila mengalami sakit panas kemudian minum obat-obat panas tertentu akan disusul dengan terjadinya perdarahan hidung. Untuk penderita model begini ini obat-obat panas jenis tertentu tersebut sebaiknya dihindari.
DEMAM BERDARAH DENGUE
Secara umum 4 gejala yang terjadi pada demam dengue sebagai manifestasi gejala klinis dari bentuk reaksi 1 dan 2 tubuh manusia atas keberadaan virus dengue juga didapatkan pada demam berdarah dengue. Yang membedakan demam berdarah dengue dengan demam dengue adalah adanya manifestasi gejala klinis sebagai akibat adanya bentuk reaksi 3 tubuh manusia terhadap virus dengue, yaitu berupa keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk kedalam rongga perut dan rongga selaput paru. Fenomena ini apabila tidak segera ditanggulangi dapat mempengaruhi manifestasi gejala perdarahan menjadi sangat masif. Yang dalam praktek kedokteran sering kali membuat seorang dokter terpaksa memberikan tranfusi darah dalam jumlah yang tidak terbayangkan. Yang penting untuk ibu-ibu/awam adalah dapat mengetahui/mendeteksi kapan seorang penderita demam berdarah dengue mulai mengalami keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah. Keluarnya plasma darah ini apabila ada biasanya terjadi pada hari sakit ke-3 sampai dengan ke-6. Biasanya didahului oleh penurunan panas badan penderita, yang sering kali terjadi secara memdadak (lysis) dan diikuti oleh keadaan anak yang tampak loyo, dan pada perabaan akan didapatkan ujung-ujung tangan/kaki dingin serta nadi yang kecil dan cepat. Pengalaman dalam praktek dokter mengajarkan bahwa banyak ibu-ibu yang pada saat demikian ini, dimana suhu tubuh putranya dirasakan normal mengira kalau putranya sembuh dari sakit. Dengan akibat si ibu tidak segera membawa putranya ke fasilitas kesehatan terdekat, dan baru terkejut beberapa waktu kemudian apabila menyadari bahwa putranya semakin lemah dan loyo. Pada keadaan ini penderita sudah dalam keadaan terlambat/kurang optimal untuk diselamatkan dari penyakitnya.
HAL-HAL YANG PATUT DIKETAHUI, DIWASPADAI DALAM RANGKA MENGANTISIPASI PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE.
Pembahasan ini tidak bermaksud mendidik ibu-ibu menjadi seorang dokter, akan tetapi bertujuan untuk menjadikan ibu-ibu mengetahui kemudian mewaspadai hal-hal/gejala-gejala yang terjadi pada anak yang mungkin mengarah pada penyakit demam dengue/demam berdarah dengue. Apabila ibu-ibu mencurigai putra/putrinya menderita penyakit tersebut maka segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat, untuk mendapatkan klarifikasi tentang penyakit yang diderita oleh putranya tersebut. Untuk klarifikasi ini putra/putri ibu akan menjalani pemeriksaan seperti tourniguet test atau pemeriksaan darah.
INGATLAH PENYAKIT DEMAM DENGUE/DEMAM BERDARAH DENGUE APABILA PUTRA/PUTRI IBU MENDERITA HAL-HAL SEPERTI BERIKUT :
  1. Panas yang timbulnya mendadak, langsung tinggi dan disertai dengan tidak mau bermain.
  2. Panas yang disertai flushing (kemerahan pada daerah muka, leher dan dada).
  3. Panas yang disertai tanda-tanda perdarahan (kulit, hidung,gusi).
  4. Panas yang berangsur dingin, tapi anak tampak loyo dan pada perabaan dirasakan ujung-ujung tangan/kaki dingin.
GEJALA-GEJALA DEMAM BERDARAH DENGUE ( DBD )
  1. Mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tanpak lemah, suhu tubuh antara 38-40°C atau lebih.
  2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit, seperti bekas gigitan nyamuk demam berdarah yang disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler di kulit. Untuk membedakannya, kulit direnggangkan, bila bintik merah hilang berarti bukan tanda penyakit DBD.
  3. Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung (mimisan).
  4. Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah.
  5. Kadang-kadang nyeri ulu hati, karena perdarahan di lambung.
  6. Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat. Bila tidak segera di tolong di rumah sakit dalam 2-3 hari dapat meninggal dunia.
  7. Para penderita DBD mengalami perdarahan di seluruh jaringan tubuh yang bisa tampak atau tak tampak dari luar.
PERTOLONGAN PERTAMA
  1. Beri minum sebanyak-banyaknya dengan air yang sudah dimasak seperti air susu, teh atau air minum lainnya, dapat juga dengan oralit.
  2. Berikan kompres air dingin atau es.
  3. Berikan obat penurun panah misalnya parasetamol (dosis anak-anak 10-20 mg/Kg BB per hari; dewasa; 3×1 tablet/hari).
    1. Harus segera dibawa ke dokter, petugas puskesmas pembantu, bidan desa, perawat pembina desa, Puskesmas atau Rumah Sakit.
CARA MENCEGAH DEMAM BERDARAH DENGUE ( DBD )
  1. Untuk mencegah DBD, nyamuk demam berdarah penularnya harus diberantas, sebab vaksin untuk mencegahnya belum ada.
  2. Untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti, maka jentik-jentiknya harus diberantas atau sarang-sarangnya harus diberantas (PSN-DBD).
  3. Karena tempat berkembang biaknya terdapat di rumah-rumah dan tempat-tempat umum maka setiap keluarga harus melaksanakan PSN-DBD, secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali.
CARA MELAKUKAN PEMBERSIHAN SARANG NYAMUK DEMAM BERDARAH DENGUE ( PSN-DBD )
  1. Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (seperti : bak mandi / WC, drum, dan lain-lain) sekurang-kurangnya seminggu sekali. Gantilah air di vas kembang, tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain sekurang-kurangnya seminggu sekali
  2. Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air, seperti tampayan, drum, dan lain-lain agar nyamuk demam berdarah tidak dapat masuk dan berkembang biak di tempat itu
  3. Kubur atau buanglah pada tempatnya barang-barang bekas, seperti kaleng bekas, ban bekas, botol-botol pecah, dan lain-lain yang dapat menampung air hujan, agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Potongan bamboo, tempurung kelapa, dan lain-lain agar dibakar bersama sampah lainnya
  4. Tutuplah lubang-lubang pagar pada pagar bambu dengan tanah atau adukan semen
  5. Lipatlah pakaian/kain yang bergantungan dalam kamar agar nyamuk tidak hinggap disitu
  6. Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras, taburkan bubuk ABATE ke dalam genangan air tersebut untuk membunuh jentik-jentik nyamuk demam berdarah. Ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali
Takaran penggunaan bubuk ABATE adalah sebagai berikut: Untuk 10 liter air cukup dengan 1 gram bubuk ABATE
Contoh:
Untuk 10 liter air, ABATE yang diperlukan = (100/10) x 1 gram = 10 gram ABATE
Untuk menakar ABATE digunakan sendok makan. Satu sendok makan peres berisi 10 gram ABATE.
Bila memerlukan ABATE kurang dari 10 gram, maka dapat dilakukan sebagai berikut:
~        Ambil 1 sendok makan peres ABATE dan tuangkan pada selembar kertas
~        Lalu bagilah ABATE menjadi 2, 3, atau 4 bagian sesuai dengan takaran yang dibutuhkan
Setelah dibubuhkan ABATE maka:
  1. Selama 3 bulan bubuk ABATE dalam air tersebut mampu membunuh jentik Aedes Aegypti
  2. Selama 3 bulan bila tempat penampungan air tersebut akan dibersihkan/diganti airnya, hendaknya jangan menyikat bagian dalam dinding tempat penampungan air tersebut
  3. Air yang telah dibubuhi ABATE dengan takaran yang benar, tidak membahayakan dan tetap aman bila air tersebut diminum
KESIMPULAN DAN SARAN
Apabila bapak-bapak / ibu-ibu mendapati putra/putrinya sakit panas, hal yang penting dilakukan adalah memberikan perhatian secara sungguh-sungguh, kemudian mengamati aspek yang berkaitan dengan panasnya maupun hal-hal lain yang menyertainya. Kalau ditemui hal-hal yang mengarah ke penyakit demam dengue/demam berdarah dengue maka segeralah dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk klarifikasi dan penanganannya. Jangan sampai terlambat.

sumber: http:// danialonline .wordpress .com

Minggu, 17 Agustus 2008

Tangani Alzheimer dengan Tepat

KEPEDULIAN masyarakat terhadap penyakit Demensia Alzheimer sampai kini masih rendah. Gejala dini penyakit ini sering terabaikan dan dianggap sebagai gejala yang umum dialami orang lanjut usia (lansia) dan merupakan bagian dari proses penuaan. Pasien juga seringkali kurang menaruh perhatian pada gejala yang timbul serta menyangkal kondisinya sendiri.

"Padahal, kegagalan mendiagnosis dini dapat mengakibatkan penanganan yang tidak tepat dan memberikan beban tambahan berupa beban ekonomi, sosial dan emosi pada penderita dan keluarga, " kata Ketua Asosiasi Alzheimer Indonesia Samino, pada media edukasi menyongsong Hari Azheimer Sedunia, Rabu (6/8), di Hotel Nikko, Jakarta .

Dalam menyongsong Hari Alzheimer Se-Dunia atau World Alzheimers Day yang diperingati setiap tahun pada 21 September, masyarakat dunia dihimbau meningkatkan kepedulian terhadap demensia Alzheimer agar kualitas hidup pasien dan keluarga dapat ditingkatkan. Tema Hari Alzheimer Se-Dunia tahun ini adalah No Time To Lose, yang artinya adalah tidak ada waktu yang terbuang percuma bagi lansia.

Peringatan World Alzheimers Day di Indonesia didukung oleh Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAz I) dan PT Eisai Indonesia. Event ini diharapkan menjadi salah satu upaya untuk membangun kepedulian akan kesehatan lansia di Indonesia, terutama untuk kesehatan otak mereka, mengingat jumlah lansia di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, demikian dikatakan dr. Samino, SpS (K) menambahkan.

Demensia Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia akibat degenerasi otak yang tersering ditemukan dan paling ditakuti. Demensia yang disebabkan oleh Alzheimer, biasanya diderita oleh pasien usia lanjut dan merupakan penyakit yang menggerogoti daya pikir dan kemampuan aktivitas bagi penderitanya.

Demensia Alzheimer dikategorikan sebagai penyakit degeneratif otak yang progresif yang mematikan sel-sel otak sehingga mengakibatkan menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir dan perubahan perilaku. Mengingat beban yang ditimbulkan penyakit ini, masyarakat perlu mewaspadai gangguan perilaku dan psikologik penderita demensia Alzheimer.

Gejala dini demensia Alzheimer antara lain gangguan memori yang mempengaruhi keterampilan pekerjaan; kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan dan berbahasa; gangguan pengenalan waktu dan tempat; kesulitan mengambil keputusan yang tepat; kesulitan berpikir abstrak; salah meletakkan barang; perubahan mood dan tingkah laku; perubahan kepribadian serta kehilangan inisiatif.

Salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam penanganan demensia Alzheimer adalah keperawatan. Masalah keperawatan pada pasien demensia Alzheimer meliputi perubahan proses berpikir (waham curiga); perilaku kekerasan; risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan; gangguan komunikasi; defisit perawatan diri; kehilangan motivasi dan minat; isolasi sosial (menarik diri); perubahan sensori perseptual, halusinasi;cemas; depresi.

Merawat penderita demensia Alzheimer tidak mudah, tapi bisa dilakukan. Pemahaman yang cukup tentang penyakit ini, kesiapan mental dan motivasi untuk berbagi merupakan modal utama dalam memberikan asuhan." Kasih sayang dan perhatian merupakan pintu masuk untuk memberikan asuhan yang utuh dan menyeluruh sehingga penderita merasa aman dan nyaman, " ujar Ibnu Abas, Wakil Kepala Pelayanan Medis, Sasana Tresna Wredha Karya Bhakti.

Tindakan keperawatan pada pasien dengan demensia Alzheimer sebaiknya dilakukan dengan membina hubungan saling percaya, menciptakan lingkungan yang terapeutik (tenang, tidak bising, sejuk, aman, warna dinding kamar teduh), reorientasi wto (waktu, tempat, orang), memberi perhatian cukup termasuk kebutuhan dasar, konsisten, menepati janji, empati dan jujur, melakukan kontak dengan pasien singkat tapi sering.

Menurut data yang ada, diperkirakan pada tahun 2040 jumlah penderita demensia di dunia menjadi sekitar 80 juta. Orang dengan demensia banyak yang hidup di negara-negara yang sedang berkembang sekitar 60 persen pada tahun 2001 dan diperkirakan meningkat hingga 71 persen tahun 2004. Peningkatan rata-rata di negara berkembang diperkirakan akan menjadi empat kali lebih tinggi dibandingkan negara maju.

Perawatan Dini Selamatkan Penderita Hepatitis C

Satu studi baru memperlihatkan bahwa pasien penderita Hepatitis C yang menerima perawatan dini dalam beberapa bulan pertama setelah terjadinya penularan menunjukkan reaksi kekebalan terhadap virus Hepatitis C (HVC).

Demikian kesimpulan para peneliti dari University of Montreal di Kanada yang menyiarkan hasil penelitian mereka pada Jumat, di U.S. Journal of Virology.

Dalam studi itu, para peneliti mengamati perkembangan satu kelompok pengguna obat yang gemar memasukkan obat itu dalam pembuluh darah dan berisiko tinggi terinfeksi HVC sebelum dan segera setelah terjadi pajanan terhadap HVC.

Mereka menemukan bahwa perawatan dini memulihkan reaksi kekebalan secara cepat, ditandai dengan adanya produksi secara serempak anti-virus.

Oleh karena itu, perawatan dini dapat memulihkan reaksi kekebalan terhadap HVC dan membantu menghilangkan virus tersebut dengan cepat. Temuan baru mengenai mekanisme penghapusan virus ini dapat memberi sumbangan bagi penatalaksanaan perawatan penderita HVC.

HVC menular melalui darah yang terinfeksi. Meskipun seperempat pasien yang terinfeksi dapat menghilangkan infeksi tersebut secara spontan, tanpa perawatan, mayoritas pasien menghadapi perkembangan infeksi yang terus-menerus, penyebab utama penyakit kronis pada jaringan hati dan kanker hati.

Satu-satunya pengobatan yang disetujui bagi HVC ialah obat anti-virus yang dikenal sebagai "pegylated interferon alpha". Obat tersebut berhasil hanya pada separuh kasus ketika ditangani selama infeksi kronis. Angka keberhasilan rata-rata di kalangan mereka yang dirawat dini setelah penularan jauh lebih tinggi atau sebesar 90 persen.

Retinopati Diabetik, Penyebab Utama Kebutaan Diabetesi

DIABETES melitus atau kencing manis merupakan penyakit metabolik. Penyakit ini ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) akibat kurangnya kadar hormon insulin dalam tubuh.

Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus selama bertahun-tahun dapat menimbulkan komplikasi, terutama pada mata, jantung, dan ginjal. Komplikasi diabetes pada mata dapat menimbulkan kebutaan, yang sebenarnya dapat dihindari (avoidable blindness) dengan manajemen diabetes yang baik, meliputi diet ketat, olahraga, obat-obatan, mengontrol penyakit penyerta seperti hipertensi dan kadar kolesterol tinggi, serta menghentikan kebiasaan merokok.

Retinopati diabetik merupakan penyebab utama kebutaan pada penderita diabetes di seluruh dunia, disusul katarak.

Pada retinopati diabetik secara perlahan terjadi kerusakan pembuluh darah retina atau lapisan saraf mata sehingga mengalami kebocoran. Akibatnya, terjadi penumpukan cairan (eksudat) yang mengandung lemak serta pendarahan pada retina. Kondisi tersebut lambat laun dapat menyebabkan penglihatan buram, bahkan kebutaan. Bila kerusakan retina sangat berat, seorang penderita diabetes dapat menjadi buta permanen sekalipun dilakukan usaha pengobatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2004 melaporkan, 4,8 persen penduduk di seluruh dunia menjadi buta akibat retinopati diabetik. Dalam urutan penyebab kebutaan secara global, retinopati diabetik menempati urutan ke-4 setelah katarak, glaukoma, dan degenerasi makula (AMD= age-related macular degeneration).

Diestimasi bahwa jumlah penderita diabetes di seluruh dunia akan meningkat dari 117 juta pada tahun 2000 menjadi 366 juta tahun 2030. Di Asia diramalkan diabetes akan menjadi ”epidemi”, disebabkan pola makan masyarakat Asia yang tinggi karbohidrat dan lemak disertai kurangnya berolahraga. Akibatnya, kebutaan akibat retinopati diabetik juga diperkirakan meningkat secara dramatis.

Belum ada data resmi

Data resmi jumlah penderita retinopati diabetik di Indonesia belum ada. Dalam Survei Kesehatan Rumah Tangga Departemen Kesehatan RI tahun 1995, kelainan ini belum didefinisikan dan masih dimasukkan ke dalam ”kebutaan lain-lain” sebanyak 28 persen.

Data Poliklinik Mata RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang tidak dipublikasikan menunjukkan bahwa retinopati diabetik merupakan kasus terbanyak yang dilayani di Klinik Vitreo-Retina. Dari seluruh kunjungan pasien Poliklinik Mata RSCM, jumlah kunjungan pasien dengan retinopati diabetik meningkat dari 2,4 persen tahun 2005 menjadi 3,9 persen tahun 2006.

Angka kejadian retinopati diabetik dipengaruhi tipe diabetes melitus (DM) dan durasi penyakit. Pada DM tipe I (insuln dependent atau juvenile DM ), yang disebabkan oleh kerusakan sel beta pada pankreas, umumnya pasien berusia muda (kurang dari 30 tahun), retinopati diabetik ditemukan pada 13 persen kasus yang sudah menderita DM selama kurang dari 5 tahun, yang meningkat hingga 90 persen setelah DM diderita lebih dari 10 tahun.

Pada DM tipe 2 (non-insulin dependent DM), yang disebabkan oleh resistennya berbagai organ tubuh terhadap insulin (biasanya menimpa usia 30 tahun atau lebih), retinopati diabetik ditemukan pada 24-40 persen pasien penderita DM kurang dari 5 tahun, yang meningkat hingga 53-84 persen setelah menderita DM selama 15-20 tahun.

Secara klinis retinopati diabetik dibedakan atas non-proliferative diabetic retinopathy (NPDR) dan proliverative diabetic retinnopathy (PDR). NPDR atau tahap awal yang lebih ringan ditandai dengan kebocoran pembuluh darah, perdarahan retina, dilanjutkan dengan penutupan (oklusi) kapiler darah retina. Retina menjadi kurang suplai oksigen dan nutrisi dari darah.

Terjadilah tahap lanjut, yaitu PDR, karena retina yang sudah iskemik atau pucat tersebut bereaksi dengan membentuk pembuluh darah baru yang abnormal (neovaskular). Neovaskular atau pembuluh darah ”liar” ini merupakan ciri PDR dan bersifat rapuh serta mudah pecah sehingga sewaktu-waktu dapat berdarah ke dalam badan kaca yang mengisi rongga mata (perdarahan badan kaca atau pendarahan vitreus), menyebabkan pasien mengeluh melihat floaters (bayangan benda-benda hitam melayang mengikuti pergerakan mata) atau mengeluh mendadak penglihatannya terhalang.

Sering kali pasien retinopati diabetik tidak mengalami tanda dan gejala sekalipun sudah dalam tahap PDR yang berat sampai terjadi perdarahan badan kaca. Penyebab gangguan penglihatan lainnya pada retinopati diabetik adalah bengkak atau menumpuknya cairan di daerah pusat retina, yaitu makula, suatu kondisi yang disebut edema makula

Akibat edema makula, pasien mulai mengalami kesulitan membaca/menulis, menonton TV, atau mengenali muka orang. Jaringan neovaskular yang terus bertumbuh (proliferatif) pada PDR juga dapat berpotensi menarik retina hingga terlepas dan/atau robek (ablasi retina). Ablasi retina pada retinopati diabetik berakibat kebutaan dan umumnya sulit ditangani.

Mencegah sedini mungkin

Prinsip utama dalam menangani retinopati diabetik adalah pencegahan dengan deteksi dini sebelum terjadi gangguan penglihatan yang berat. Walaupun belum mengeluh dan tanpa melihat berapa lama ia menderita diabetes, seorang pasien harus dirujuk ke dokter mata untuk menjalani pemeriksaan mata awal (skrining). Apabila retinopati diabetik sudah teridentifikasi, dilakukan manajemen sedini mungkin bagi penderita dengan melakukan pemeriksaan mata secara berkala, minimal satu kali dalam setahun.

Dalam pemeriksaan, mata akan ditetes supaya pupil menjadi lebar dan dokter mata dapat mengamati retina secara saksama. Sebaiknya dilakukan untuk dokumentasi dengan foto fimdus , atau pencitraan lain yang diperlukan.

Terapi utama pada retinopati diabetik adalah tindakan fotokoagulasi laser pada retina. Tindakan laser bertujuan menutup kebocoran pembuluh darah retina, mengurangi edema makula, dan mencegah timbulnya rangsang untuk pembentukan neovaskular. Secara umum, tindakan laser pada retina yang dibarengi dengan manajemen diabetes yang baik dapat mengurangi risiko buta hingga 90 persen.

Bedahan vitrektomi, yaitu tindakan bedah mikro yang bertujuan membersihkan perdarahan badan kaca, membebaskan retina dari segala tarikan akibat pertumbuhan neovaskular dan mengaplikasikan sinar laser secara langsung di dalam bola mata. Pada kasus-kasus PDR, vitrektomi dapat mencegah kehilangan penglihatan yang lanjut. Terapi lain yang baru berkembang dalam dekade terakhir adalah pemberian obat, seperti golongan kortikosteroid dan Anti-VEGF (VEGF=vascular endothellial grwowh factor), yang bertujuan mengurangi edema makula dan menghentikan pertumbuhan neovaskular.

Penting untuk diketahui, sering kali segala tindakan tersebut tidak dapat mengembalikan penglihatan yang sudah hilang. Kadang kala, segala tindakan tersebut hanya dapat mencegah perburukan lebih lanjut.

Komplikasi diabetes, termasuk kebutaan, dapatlah dicegah dengan kontrol yang baik dan deteksi dini untuk identifikasi penyakit dan terapi seawal mungkin. Untuk skrining diabetes dan retinopati diabetik perlu dikembangkan strategi yang tepat, sebagai contoh di India, dijalankan skrining dengan telemedicine.

Di Indonesia sudah banyak didirikan pusat kesehatan yang mampu memberi layanan komprehensif bagi penderita diabetes, tetapi masih terkonsentrasi di kota-kota besar sehingga cakupannya masih sangat kurang. Untuk menangani pasien-pasien diabetes diperlukan kerja sama berbagai pihak, meliputi WHO, pemerintah, departemen kesehatan, organisasi profesi dokter, dokter mata dan dokter penyakit dalam serta ahli endokrin, serta LSM nasional maupun internasional.

Jumat, 11 Juli 2008

Rokok Gerbang Menuju Tumor Paru

Merokok adalah faktor risiko utama yang menyebabkan tumor paru-paru. Lebih dari 80 persen tumor paru-paru di seluruh dunia terjadi karena kebiasaan merokok.

TUMOR paru adalah salah satu jenis tumor yang sulit disembuhkan. Sesuai namanya, tumor paru tumbuh di organ paru-paru. Tumor ini diakibatkan oleh sel yang membelah dan tumbuh tak terkendali pada organ paru. Tumor paru jika dibiarkan dapat berkembang menjadi kanker paru.

Biasanya tumor ini berkembang di saluran napas atau bagian alveolus. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan tumor ini menyebar ke seluruh tubuh jika sudah menjadi kanker paru stadium akut.

Setiap tahun, terdapat lebih dari 1,3 juta kasus kanker paru di seluruh dunia dengan angka kematian 1,1 juta setiap tahunnya. Di Eropa, diperkirakan ada 381.500 kasus kanker paru pada 2004, dengan angka kematian 342.000 atau 936 kematian setiap hari.

Menurut Prof Dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K), FCCP, ahli paru dari Rumah Sakit Persahabatan, tumor paru ganas yang dapat berubah menjadi kanker dibagi menjadi dua bagian besar. Pembagiannya adalah tumor paru sel kecil dan tumor paru bukan sel kecil. Membedakan dua jenis tumor ini penting dilakukan untuk mendapatkan pengobatan optimal.

Tumor paru sel kecil jarang terjadi, tapi sifanya sangat cepat menyebar. Namun keuntungannya, sel yang cepat membelah itu biasanya sensitif terhadap sinar. Karenanya, pengobatan tumor jenis ini dapat dilakukan dengan penyinaran radioterapi. Meski demikian, tumor jenis ini juga cepat menyerang kembali.

Tumor bukan sel kecil merupakan jenis tumor yang berpotensi menyebabkan kanker paru. Lebih dari 80 persen dari semua kanker paru diawali dari tumor paru bukan sel kecil ini. Terdapat tiga tipe dari tumor paru bukan sel kecil ini, yaitu adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, dan karsinoma sel besar.

Pada tumor paru bukan sel kecil ini derajatnya dibagi berdasarkan TNM, di mana T menujukan ukuran besarnya tumor, N keterlibatan dari kelenjar limfe tubuh, dan M melihat adanya metastase (penyebaran) tumor ke bagian tubuh yang lain.

Ahli medis tidak selalu bisa menjelaskan mengapa ada orang yang mengidap tumor paru-paru, sedangkan orang lain terhindar dari penyakit itu. Namun, orang dengan faktor risiko tertentu lebih besar kemungkinannya terkena tumor paru-paru.
“Risiko terkena tumor paru lebih besar jika orang tersebut adalah kaum pria, usia di atas 40 tahun dan punya kebiasaan merokok yang lama,” ucap Prof Faisal yang juga Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ini.

Merokok adalah faktor risiko utama yang menyebabkan tumor paru-paru. Lebih dari 80 persen tumor paru-paru di seluruh dunia terjadi karena kebiasaan merokok. Bahan-bahan berbahaya di dalam rokok bisa merusak sel paru-paru. Seiring berjalannya waktu, sel-sel yang rusak ini bisa berubah menjadi tumor, bahkan menjadi kanker. Itulah sebabnya mengapa mengisap rokok, pipa, atau cerutu bisa menyebabkan kanker paru-paru.

Selain itu, perokok pasif atau terpapar asap rokok juga bisa menyebabkan tumor paru-paru pada orang bukan perokok atau perokok pasif. Semakin sering seseorang terpapar asap rokok, semakin besar risikonya terkena tumor paru-paru.

Faktor risiko lain untuk tumor paru-paru, antara lain jika seseorang banyak mengirup zat seperti radon (sebuah gas radioaktif), asbestos, arsenik, krom, nikel, dan polusi udara. Orang dengan riwayat keluarga mengidap tumor paru juga memiliki tingkat risiko yang lebih besar. Orang yang pernah mengidap tumor paru punya risiko yang lebih besar untuk mengidap tumor paru yang kedua.

Gejala
Gejala dari tumor paru bervariasi. Bahkan, jika ukurannya masih kecil, tumor ini tidak menimbulkan gejala. “Ini karena oragan paru itu tidak mempunyai saraf sakit. Jadi walau ada tumor tidak terasa sakit. Saraf sakit ada di bagian plura, selaput tipis yang melapisi paru dan dinding dada. Jika tumor sudah mencapai bagian plura, barulah terasa nyerinya,” papar Prof Faisal.

Gejala yang terjadi jika tumor sudah membesar, antara lain batuk, bahkan bisa batuk darah jika tumor sudah mengenai pembuluh darah. Gejala lainnya, sesak napas dan nyeri dada. Ada juga gejala di luar faktor pernapasan, antara lain nafsu makan berkurang hingga berat badan turun drastis, lemas, dan cepat lelah. Gejala ini mirip dengan TBC, tidak jarang orang keliru menyangka tumor paru sebagai TBC. Cara diagnosis yang tepat akan menentukan penyakit tersebut, apakah TBC atau tumor paru. “Agar pasti dapat dilakukan pemeriksaan dengan CT Scan,” kata Prof Faisal.

Tumor paru merupakan jenis tumor yang paling sulit diobati. Penderita tumor paru bisa dikatakan hampir pasti akan meninggal karena belum ada pengobatan yang tuntas. Kesempatan bertahan pasien tumor paru kurang dari lima tahun. Jarang ada pasien yang bertahan lebih dari lima tahun dengan tumor paru ganas.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada harapan sama sekali. Saat ini tersedia beberapa pilihan untuk pengobatan tumor paru pada masing-masing tingkatan. Keputusan pilihan pengobatan sebaiknya dibuat oleh kedua belah pihak, yakni pasien dan dokter yang merawat. Dokter juga harus menjelaskan mengapa suatu pilihan terapi ditawarkan kepada pasien dan keluarganya. Selain itu perlu dijelaskan juga kelebihan dan kekurangan dari pilihan terapi yang akan dijalani, termasuk besarnya kebutuhan biayanya.

Pengobatan tergantung pada jenis sel tumor, perjalanan penyakit, tampilan umum penderita, dan tentunya dengan mempertimbangkan aspek keuangan penderita. Pengobatan yang paling sering dilakukan adalah pembedahan. Pada tindakan bedah, bagian paru yang terkena tumor dibuang. Daerah sekitar bagian yang terkena tumor juga akan dibuang sepanjang 0.5 cm untuk mewaspadai andaikata tumor sudah menyebar.

Pasien dapat dioperasi jika stadium tumornya masih dibawah stadium 3. Jika lebih dari stadium 3, biasanya pasien akan diberi kemoterapi atau radioterapi agar tumornya mengecil dulu. Setelah itu baru dioperasi. Yang perlu diingat, tindakan operasi tidak bisa dilakukan jika tumor sudah menyebar.

Pencegahan
Tumor paru dapat dicegah atau dikurangi faktor risikonya dengan tiga cara, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan mencegah seseorang menjadi perokok. Pencegahan sekunder adalah penghentian perokok aktif. Sementara itu, pencegahan tersier dengan menemukan penderita kanker paru stadium dini.

Selain itu dapat juga dengan banyak mengkonsumsi makanan antioksidan seperti jeruk atau wortel, yang mengandung beta karoten yang berkhasiat untuk mencegah kanker.

Minggu, 06 Juli 2008

Hepatitis B Bisa Bunuh Anda Diam-diam

PENYAKIT hepatitis B adalah jenis penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti. Tak heran bila para penderitanya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menderita hepatitis B bahkan bila sudah dalam kondisi kronis sekalipun.

"Yang paling sering ditemukan memang tanpa gejala. Banyak sekali pasien yang kita obati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. Beruntung kalau ada pasien yang rajin atau sadar melakukan check-up setiap tahun. Dengan penanganan sejak dini, kemungkinannya untuk menjadi kronis tentu bisa dikurangi," ungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr. Unggul Budihusodo, Sp.PD-KGEH di Jakarta, Selasa (17/6).

Ditegaskan dr Unggul, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya. Tentu yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.

Namun begitu, ada gejala-gejala yang mungkin hadir pada pendeita meskipun tidak selalu muncul. "Gejala-gejala yang mungkin ada seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit yang tampak menguning," papar dr Unggul yang sehari-hari berkantordi Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta .

Ia menambahkan, seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).

"Dari hasil pemeriksaan nanti, dokter kemudian akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya," jelas dr Unggul.

Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan. Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.

Saat ini, pengobatan hepatiitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi. Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine. Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi.

Hepatitis B Lebih Infeksius dari HIV

MASYARAKAT selama ini begitu akrab dengan istilah HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang dikenal sangat berbahaya karena menimbulkan kematian bagi pengidapnya. Namun, tak banyak orang tahu bahwa selain HIV, ada virus yang tak kalah berbahaya dan bahkan jauh lebih infeksi, yakni virus Hepatitis B.

Seperti diungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo SpPD-KGEH, virus hepatitis B adalah virus yang patut diwaspadai karena 100 kali lebih infeksi ketimbang HIV dan 10 kali lebih mudah menginfeksi dari hepatitis C. "Di dunia, jumlah pengidap hepatitis B kronik diperkirakan sekitar 250 juta dan penderita hepatitis C sekitar 150 juta. Sedangkan penderita HIV tidak sampai separuhnya atau kurang lebih sekitar 100 juta orang," kata dr Unggul di Jakarta, Selasa, (17/6).

Ia menambahkan, virus hepatitis C sebenarnya tak kalah menakutkan dari HIV mengingat masalah yang ditimbulkan virus ini jauh lebih besar. Namun, karena gaung HIV yang lebih besar, kesadaran masyarakat akan ancaman virus ini masih rendah. "Ini tidak lepas dari fakta bahwa berita-berita HIV sering di-blow-up oleh media massa ketimbang hepatitis B atau hepatitis C," ungkapnya.

Dari sisi ancaman bagi kesehatan, dr Unggul menjelaskan, HIV dan hepatitis B tidak jauh berbeda. Penyakit akibat virus HIV dan hepatitis B adalah dua jenis yang hingga saat ini belum bisa disembuhkan secara total.

"Bila seseorang terkena penyakit ini, biasanya harus meminum obat seumur hidup untuk mengatasinya, sedangkan sebagian besar pasien hepatitis C sudah bisa disembuhkan secara total dengan pengobatan tertentu," ujarnya.

Selain itu, hal yang patut diwaspadai dari hepatitis B adalah penyakit ini merupakan penyebab utama terjadinya kanker hati bersama dengan hepatitis C. "Sekitar 90 persen pasien penderita kanker hati adalah juga penderita hepatitis B atau C," ungkapnya.

Di Indonesia, lanjut dr Unggul, prevalensi penularan hepatitis B termasuk tertinggi di dunia bersama negera-negara Asia Pasifik lainnya. "Prevalensi infeksi hepatitis kronik di Indonesia rata-rata mencapai 5-10 persen dari total jumlah penduduk," ujarnya.

Pasien Gagal Jantung Terlalu Optimistis?

HIDUP dan mati adalah sesuatu yang telah digariskan Tuhan. Tak ada yang bisa memperkirakan kapan seseorang akan meninggal atau berapa lama lagi dapat bertahan hidup saat keadaan sakit berat.

Dalam kondisi sakit sekalipun, optimisme dan harapan memang harus selalu dipelihara dan dipertahankan. Menyoal optimisme ini, sebuah riset menunjukkan bahwa penderita gagal jantung adalah mereka yang memiliki harapan dan optimisme tinggi.

Penelitian mengungkapkan, penderita gagal jantung terlalu yakin atau berlebihan dalam memperkirakan berapa lama lagi mereka bisa bertahan hidup. Penelitian terbaru yag dimuat Journal of the American Medical Association menyebutkan, hampir dua pertiga pasien penderita gagal jantung kongestive selalu berlebihan dalam memperhitungkan angka harapan hidup mereka atau 40% lebih tinggi dibandingkan rata-rata relalistis yang didasarkan hasil prognosis atau kemungkinan masa depan penyakit.

Gagal jantung kongestif, yang terjadi ketika jantung menjadi terlalu lemah atau berkurangnya volume pemompaan sehingga jantung tidak dapat mencukupi kebutuhan darah untuk seluruh bagian tubuh, tercatat menjad penyebab 55.000 kematian setiap tahunnya dan secara tidak langsung di Amerika Serikat menyebabkan 230.000 kematian lainnya secara rutin setiap tahun .

Meskipun sudah ini ada kemajuan dalam pengobatan penyakit jantung ini , para ahli mengatakan prognosis bagi pasien penderitanya masih lemah, dengan sekitar 50% rata-rata harapan hidupnya kurang dari lima tahun. Bahkan pasien yang menderita gagal jantung stadium lanjut, hampir 90% di antaranya meninggal dalam kurun waktu satu tahun.

"Persepsi pasien tentang prognosis memang penting artinya karena hal ini mempengaruhi keputusan medis dalam hal pengobatan, alat, transplantasi dan perawatan di akhir hidup," tulis peneliti dari the Duke Clinical Research Institute, Larry A. Allen, MD, MHS.

Dalam risetnya, Larry dan timnya melibatkan 122 pasein (rata-rata berusia 62 tahun) yang menderita gagal jantung kongestif stadium sedang hingga lanjut. Para pasien ditanya mengenai persepsi akan harapan hidup mereka.

Peneliti menemukan pasien gagal jantung cenderung terlalu berlebihan dalam memperhitungkan harapan hidupnya dengan rata-rata kelebihan sekitar tiga tahun. Rata-rata pasien memperkirakan mereka bisa bertahan hingga 13 tahun sedangkan hasil perhitungan medis yang telah divalidasi menunjukkan hanya 10 tahun.

Secara keseluruhan, 63% penderita gagal jantung berlebihan dalam memperkirakan harapan hidunya dengan rata-rata 40% di atas prediksi dari perhitungan medis. Pasien yang lebih muda dan mengidap stadium lanjut adalah mereka yang cenderung paling berlebihan dalam memperkirakan harapan hidupnya.

Riset yang dilakukan Larry cs ini berlangsung selama tiga tahun dan sebanyak 29% pasien yang menjadi partisipan meninggal. Peneliti tidak menemukan hubungan antara persepsi akan panjangnya harapan hidup dengan kemamupan bertahan hidup atau survival.

Lima Langkah Cegah HIV/AIDS

SEKSOLOG Dr. Boyke Dian Nugraha menyarankan masyarakat untuk ikut membantu mencegah dan menekan penularan penyakit HIV/AIDS. Menurutnya, ada lima langkah yang dapat dilakukan guna mencegah penularan penyakit yang mematikan dan belum ada obatnya tersebut.

"Yang pertama adalah menghindari berhubungan seks bebas," ungkapnya usai memaparkan seminar pengaruh globalisasi terhadap hubungan seks para generasi muda di Pangkalpinang, Sabtu (21/6).

Bila seseorang menyukai hubungan seks bebas, menurut Boyke hampir dipastikian kemungkinan untuk tertular atau menularkan HIV/AIDS menjadi sangat besar.

Sedangkan strategi selanjutnya menurutnya adalah setiap pria atau wanita harus setia kepada pasangannya sehingga meminimalisir masuknya virus HIV yang dapat menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia.

"Banyak masyarakat yang tak puas dengan pasangan mereka sehingga mencari pasangan lain di luar yang kondisi kesehatannya tidak jelas apakah ia terkena HIV AIDS atau penyakit kelamin lainnya," ujarnya.

Di samping itu, masing-masing pasangan harus bisa mempertahankan hubungan yang harmonis pada keluarganya agar tidak terjadi kejenuhan dan polemik dalam keluarga yang menjadi pemicu awal.

Strategi berikutnya adalah menggunakan selalu kondom saat melakukan hubungan intim dan hal ini dilakukan setelah strategi pertama dan kedua tidak berhasil diterapkan. Selanjutnya untuk menghindari HIV/AIDS adalah masyarakat khususnya para generasi muda agar menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian yang keseterilannya sangat diragukan.

Sedangkan strategi terakhir menurut pria yang pernah mendapat predikat Dokter Puskesmas Teladan se-Provinsi Lampung tahun 1985 adalah menghindari penularan melalui transfusi darah dengan cara selektif dan ketat dalam menjalani transfusi darah.

Menurutnya, banyak sekali problem remaja mulai dari soal seks, pacaran, hamil diluar nikah, komplikasi aborsi yang dapat menyebarkan HIV AIDS yang harus dihindari. Seminar yang diprakarsai Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang itu diikuti sedikitnya 800 orang Mahasiswa dan pelajar se-kota Pangkalpinang.

Kolesterol Sebabkan Kepikunan

KEPIKUNAN atau menurunnya daya ingat ternyata ada hubungannya dengan kadar kolesterol darah. Riset para ahli dari University College London dan INSERM Institute Prancis mengindikasikan, rendahnya kadar kolesterol baik atau high density lipoproteins (HDL) dalam darah bisa membuat Anda rentan mengalami kepikunan dan alzheimer.

Dalam medis dikenal dua jenis kolesterol, yakni HDL yang melindungi jantung Anda dari kerusakan dan kolesterol jahat atau low density lipoproteins (LDL) yang meningkatkan risiko menderita sakit jantung. Pada praktinya, HDL juga berfungsi menekan kadar LDL dengan cara mengirimkannya dari sel-sel dan pembuluh darah menuju liver atau hati.

Dalam suatu riset terhadap 3.673 pelayan di Inggris, para ahli menemukan bahwa rendahnya kadar HDL berkaitan dengan meningkatnya risiko mengalami penurunan daya ingat. Pengaruh ini secara spesifik tampak ketika kadar HDL dalam darah menurun pada usia antara 55 hingga 60 tahun di mana hal ini akan meningkatkan kecenderungan mengalami kepikunan hingga 61 persen.

Kolesterol baik dan jahat sebenarnya dapat dikendalikan dengan pola makan yang sehat dan olahraga. Mengonsumsi sedikit alkohol juga dapat menaikkan kadar HDL, sedangkan memakan gandum murni dan minyak ikan dapat membantu produksi kolesterol baik.

Riset yang dipublikasikan dalam Arteriosclerosis, Thrombosis and Vascular Biology: Journal of the American Heart Association mengindikasikan rendahnya HDL pada usia 55 tahun meningkatkan risiko kepikunan hingga 27 persen dibandingkan dengan mereka yang kolesterol HDL-nya tinggi.

Mereka yang berusia 60 tahun dengan kadar HDL rendah memiliki kemungkinan 53 persen mengalami gangguan ingatan. Peneliti juga menemukan, penggunaan obat-obatan statin untuk meningkatkan HDL atau menurunkan LDL tidak berkaitan dengan gangguan daya ingat.

"Kolesterol HDL dapat memengaruhi ingatan karena memiliki fungsi sebagai antiperadangan dan antioksidan. Banyak penelitian lain mengenai hubungan lemak dan daya ingat pada lanjut usia memberi fokus pada jumlah kolesterol total atau kolesterol LDL karena status mereka sebagai faktor risiko yang telah teruji bagi penyakit pembuluh darah. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa HDL penting bagi daya ingat. Karena itu, pada dokter dan pasien harus waspada dan memantau kadar HDL mereka," ungkap pimpinan peneliti Singh-Manoux.

Kamis, 26 Juni 2008

Sorafenib Bantu Penderita Kanker Hati

PENDERITA kanker hati stadium lanjut (hepatocellular carcinoma/HCC) memiliki harapan lebih besar untuk memperpanjang dan mempertahankan kualitas hidupnya. Dengan menjalani terapi kanker berfokus sasaran menggunakan obat Sorafenib, penderita HCC dapat mengingkatkan kelangsungan hidup hingga 47 persen.

"Sorafenib sudah menjadi sistem standar untuk terapi kanker hati stadium lanjut. Obat ini adalah satu-satunya terapi yang telah menunjukkan adanya peningkatan survival rate bagi para penderita kanker hati di dunia dan juga di Indonesia," ungkap Profesor Ali Sulaiman SpDP-KGEH, dari Divisi Hematologi Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (FKUI/RSCM) di Jakarta, Kamis (26/6).

Kemampuan Sorafenib memperpanjang harapan hidup, lanjut Prof Ali, dapat dilihat dari hasil berbagai riset antara lain penelitian internasional SHARP fase ke-3 yang dilakukan pada pasien kanker hati di AS, Eropa dan Australia/Selandia Baru menunjukkan Sorafenib secara signifikan meningkatkan kualitas kelangsungan hidup sebasar 44 persen .

Pada penelitian serupa, yang juga mengevaluasi efikasi dan keamanan Sorafenib dibanding plasebo yang dilakukan pada pasien 226 penderita HCC di wilayah Asia Pasifik yakni Fase III Asia Pacific Study, terbukti bahwa Sorafenib secara signifikan meningkatkan kelangsungan hidup sebesar 47,3 persen pada para penderita kanker hati stadium lanjut.

"Dari hasil data yang ada, terlihat bahwa Sorafenib menunjukkan peningkatan perpanjangan tingkat kelangsungan hidup. Perbandingan antara penelitian di Asia Pasifik dengan hasil percobaan internasional SHARP di AS menunjukkan tingkat keberhasilan yang sama, meski pasien-pasien di Asia Pasifik memiliki status kesehatan yang lebih memprihatinkan dan lebih banyak metastase”, ungkap Dr. Hady Syarif, Head of Specialty Care Bayer Schering Pharma Indonesia.

Sorafenib merupakan terapi oral dengan sasaran sel tumor dan sistem pendarahan tumor untuk dikonsumsi dalam jangka panjang. Selain mengobati kanker hati stadium lanjut, obat ini juga digunakan untuk terapi kanker ginjal stadium lanjut. Sorafenib telah disetujui dilebih dari 40 negara bagi pengobatan untuk pasien penderita kanker hati yang tidak dapat dioperasi dan di lebih dari 70 negara untuk pengobatan bagi penderita kanker ginjal stadium lanjut.

Sorafenib bekerja dengan cara membidik sel tumor dan sistem pendarahan tumor. Dalam sebuah uji preklinis, Sorafenib terbukti mampu menghambat dua jenis kinase yakni profilerasi sel dan angiogenesis (pembentukan pembuluh darah) di mana keduanya berperan besar dalam proses pertumbuhan kanker. Proses ini penting pula bagi sel normal, sehingga terapi target dari Sorafenib juga bisa mempengaruhi beberapa sel normal.

Menurut Prof Ali, meski cukup aman digunakan. Sorafenib tetap memiliki efek samping bagi penggunanya. Eefek samping yang mungkin timbul di antaranya diare, rasa sakit seperti terbakar, dan mati rasa. "Bila beberapa gejala muncul, dokter biasanya akan menyesuaikan dosis dan mengentikan pengobatan untuk semnetara waktu," ungkapnya.

Pada November 2007, Sorafenib telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat Makanan AS (FDA) bagi pengobatan pasien dengan kanker hati yang tak dapat dioperasi dan belum lama ini juga disetujui di lebih dari 40 negara. Sedangkan di Indonesia, Sorafenib telah disetujui Badan POM RI pada April 2008 untuk pengobatan pasien dengan kanker hati stadium lanjut yang tidak dapat dioperasi (HCC).

Kanker hati stadium lanjut (hepatocellular carcinoma) menurut Prof Ali kini masuk dalam 6 besar kanker yang paling sering menyebabkan kematian di Indonesia. Jumlah penderitanya biasanya selaras dengan angka penderita hepatitis B dan hepatitis C kronis, dua kelompok yang berisiko paling tinggi . Sebagian besar pasien yang didiagnosis terkena kanker ini biasanya tidak diketahui gejala awalnya dan datang ke dokter sudah dalam stadium lanjut.

Pada stadium awal, kanker hati dapat diatasi dengan cara tindakan pembedahan untuk mengangkat jaringan sel kanker. Selain itu, pasien kanker hati menjalani kemoterapi. Namun pada stadium lanjut, pasien tidak bisa mejalani tindakan tersebut karena sel kanker sudah menyebar.

"Yang datang ke rumah sakit umumnya sudah telat. Sekitar 80 persen penderita tidak bisa dioperasi lagi, yang biasa diobati mungkin hanya sekitar 30-40 persen saja," tandasnya.

Selasa, 10 Juni 2008

Minyak Ikan Cegah Kebutaan

MENGONSUMSI makanan yang kaya akan kandungan asam lemak omega-3 seperti minyak ikan ternyata mampu mambantu menghindari risiko gangguan penglihatan, demikian hasil tinjauan sebuah riset.

Seperti dimuat dalam jurnal The Annals of Ophthalmology, tinjauan riset para ahli Australia menyatakan omega-3 dapat menekan risiko seseorang menderita gangguan penglihatan degeneratif yang disebut age-related macular degeneration (AMD) hingga 30 persen lebih. Namun begitu, peneliti sama sekali tidak menganjurkan setiap orang untuk banyak mengonsumsi omega-3 jika hanya ingin terhindar dari ancaman ini.

Dalam istilah medis, AMD merupakan kondisi memburuknya penglihatan secara progresif dan tidak bisa diperbaiki akibat penipisan dan pendarahan di sekitar macula atau daerah pusat retina mata. Penderita AMD, yang kebanyakan berusia 60 tahun ke atas, biasanya kehilangan kemampuan untuk melihat secara detil. Pada beberapa kasus yang parah, penderita AMD bisa dikataka buta meski masih memiliki sedikit kemampuan untuk melihat.

Sejumlah riset selama ini kerap menghubungkan asam lemak omega-3 dengan beragam manfaat kesehatan. Salah satu yang paling signifikan adalah rekomendasi penelitian bahwa omega-3 dapat membantu penderita sakit jantung.

Kali ii, para ahli dari Universitas Melbourne mencoba membuat review atau tinjauan atas hasil sembilan penelitian mengenai kaitan omega-3 dan AMD. Sembilan riset ini secara total melibatkan 88.974 partisipan dan lebih dari 3,000 di antarnya mengidap AMD.

Melakukan tinjauan seperti ini menurut peneliti akan memberi kekuatan dari segi statistik dan analisis lebih komprehensif ketimbang masing-masing riset yang hanya memperhitungkan sejumlah faktor ata kemungkinan.

Hasil tinjauan menyimpulkan bahwa mengonsumi ikan sekurangnya dua kali dalam seminggu dapat menurunkan risiko menderita AMD. Penurunan risiko sebesar 38 persen ditemukan pada partisipan yang tercatat paling banyak mengonsumsi omega-3 dibandingkan mereka yang sedikit mengonsumsinya.

Pimpinan riset Dr Elaine Chong menegaskan, asam lemak omega-3 merupaka komponen vital untuk kesehatan retina. Ada kemungkinan bila seseorang kekurangan zat ini akan lebih rentan terhadap AMD karena sel-sel pada retina mata selalu memperbarui secara alami.

Walau asupan omega-3 berkaitan dengan risiko AMD, Chong belum menganjurkan konsumi rutin menginngat masih minimnya bukti penelitian. "Meskipun meta-analysis mengindikasikan bahwa konsumi ikan dan makanan mengandung omega-3 berhubungan dengan rendahnya risiko AMD, belum ada cukup bukti dari literatur saat ini yang mendukung konsumsi rutin bagi pencegahan AMD," tegas Chong.

Rabu, 14 Mei 2008

Jangan Remehkan Rasa Sakit Seperti Maag

Radang pada empedu yang terbungkus omentum kadang tak terdiagnosa lewat USG. Rajiman (44 tahun) kerap menderita rasa sakit di bagian ulu hatinya. Derita yang mirip sakit maag ini bahkan telah dirasakannya sekitar 20 tahun. Pemeriksaan ke dokter dan pemantauan lewat USG (ultrasonografi) tak pernah menemukan penyebab keluhannya. Ketika rasa sakit kembali menderanya, bedah laparoskopi pun menunjukkan, Ia ternyata menderita cholecystitis (radang empedu). Menurut ketua SMF Bedah Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dr HM Jisdan Bambang Yulianto, SpB, penyakit radang empedu ini memang tidak terdiagnosa karena kantong empedunya sudah terbungkus oleh omentum (salah satu bangunan di dalam rongga perut). Hal itu baru diketahui saat laparoskopi bahwa omentum menumpuk di kantong empedu dan lengket di sela-sela liver kanan maupun kiri. Mau tak mau, saat itu juga diputuskan untuk dilakukan pengangkatan kantong empedu dengan operasi laparoskopi. Sang pengemulsi lemak Jisdan mengatakan, pada prinsipnya kantong empedu adalah kantong yang dipakai untuk menampung cairan empedu yang berupa garam empedu dan lemak. Garam empedu itu dibutuhkan untuk membantu sistem pertahanan tubuh yang dikenal sebagai keseimbangan asam basa. Selain itu juga di dalam kantong empedu ada ekstrak empedu yang dipakai untuk mengemulsi lemak. Pada keadaan tertentu, akibat kesalahan makan dengan lemak yang berlebihan dan kadang disertai kuman yang masuk, maka terjadi proses pengendapan dari ekstrak lemak. Kemudian bisa menimbulkan permasalahan berupa pembentukan inti batu empedu (cholelithiasis). Cholelithiasis ini bisa menimbulkan peradangan empedu (cholecystitis). Sebaliknya, cholecystitis bisa menimbulkan batu empedu. Jisdan mengakui, cholecystitis memang kadang sulit diketahui dan keluhan subyektifnya memang hampir sama dengan sakit maag atau keluhan ''masuk angin'' biasa. Kecuali bila cholecystitis ini telah menimbulkan permasalahan yang spesifik, seperti kulit kuning, dan terbentuk batu empedu (cholelithiasis) yang menyumbat total di saluran empedu. Karena hal itu akan menimbulkan rasa ''sebah'' di perut seperti maag disertai nyeri di ujung tulang belikat atau titik boas, kata ahli bedah laparoskopi ini. Nyeri di titik boas itu merupakan salah satu ciri khas penyakit gangguan empedu. Untuk lebih jelasnya, bisa dilkakukan pemeriksaan dengan USG. Selanjutnya Jisdan mengatakan, apabila terjadi peradangan, empedu terus-menerus akan membengkak. Empedu akhirnya tidak bisa memproduksi sesuai dengan kapasitasnya yang seharusnya dan berisiko menimbulkan kebocoran empedu. Apabila peradangan cukup berat akan mengakibatkan perlengketan di beberapa tempat, terutama di liver dan usus besar. Hal itu yang paling banyak terjadi. Kalau radang empedunya berlanjut dan meradang di dekat liver, maka akan menimbulkan nyeri di pundak (kerr). Nyeri di pundak terjadi karena ada peradangan yang melibatkan saraf di diafragma (sekat rongga badan). Itu berarti sudah ada peradangan yang melewati pada dinding kantong empedu dan ini sudah komplikasi. Nyerinya bisa kanan maupun kiri dan hilang-timbul. Makin lama rasa sakit ini semakin berat dan akhirnya nyeri menetap. Jika batu empedu cukup banyak, maka sebagian batu empedu ini bisa masuk ke saluran empedu --yang menghubungkan liver dengan usus 12 jari. Maka, sumbatan pun bisa terjadi. Bila penderita mengalami sumbatan itu, maka warna kulit menjadi kuning dan kelopak mata menjadi kuning. Pada kondisi itu orang bisa mengalami komplikasi yang buruk lagi sampai terjadi komplikasi di otaknya. ''Itu yang dikenal dengan keracunan bilirubin,'' tutur dia. Pada mereka yang kebetulan ditemukan dengan komplikasi, kadang komplikasi berupa terbentuknya tumor. Peradangan di empedu yang disebabkan oleh tumor, kadang karena adanya penyempitan, atau polip di empedu. Terbentuknya tumor ini biasanya terjadi pada orang yang memang punya bakat tumor. Di luar kasus itu ada kasus empedu yang membengkak disebabkan oleh tumor di pankreas, dan operasinya sangat rumit, jelas Jisdan. Karena itu, kata dia, apabila seseorang mengalami peradangan di kantong empedu, sebaiknya harus diangkat kantong empedunya. ''Sehingga cepat atau lambat akan menimbulkan masalah sakit perut yang kambuh-kambuhan, pembentukan batu yang makin banyak,'' saran dia. Namun demikian, ia menambahkan, kalau radang empedu tidak menimbulkan risiko yang berlebihan atau komplikasi yang tidak mengancam jiwanya, maka bisa meredakan peradangan dengan obat dulu. Kalau radangnya sudah reda, baru dilakukan tindakan operasi laparoskopi. Hindari lemak Jisdan mengakui, sebetulnya mencegah cholecystitis dan cholelithiasis tidak mudah. Namun, karena ini salah satu bagian dari sistem pencernaan, maka sebaiknya menjaga makanan yaitu jangan makanan dengan kadar lemak tinggi. ''Apalagi kita hidup di daerah tropis, sehingga lemak itu hanya dibutuhkan minimal sekali,''tuturnya. Alkohol juga akan memicu permasalahan-permasalahan di empedunya, karena itu sebaiknya dihindari minum alkohol. Selain itu juga sebaiknya makan makanan yang tidak terkontaminasi kuman. Karena kuman akan masuk ke dalam pencernaan bersama makanan. Radang empedu maupun batu empedu ini lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki yaitu 1 dibanding 2 atau 3. Yang paling banyak menderita penyakit tersebut adalah mereka yang empat F yaitu Fat, Forty, Fertile, dan Female. Dengan kata lain, mereka yang beresiko adalah orang yang gemuk, berusia di atas 40 tahun, subur, dan kebanyakan wanita. ''Dengan diangkatnya kantong empedu Insya Allah tidak masalah, karena kantong empedu ini hanya reservoir, bukan pembentuk utama. Fungsi kantong empedu ini nantinya akan dikompensasi oleh alat-alat tubuh yang lain yang bisa memberikan support dalam proses pencernaan, misalnya di saluran empedu,''tutur Jisdan. Penderita yang sudah diangkat kantong empedunya harus menghindari makanan yang berkadar lemak. Karena makanan berlemak tersebut akan menimbulkan rasa nyeri di ulu hati. Pada enam bulan pertama setelah dilakukan pengangkatan kantong empedu, kadang muncul rasa nyeri di ulu hati, spalagi bila penderita makan makanan berlemak. Tetapi bersama berjalannya waktu, sesudah tubuh melakukan kompensasi-kompensasi secara alamiah, rasa nyeri tersebut akan hilang sendiri,''jelas Jisdan. Ikhtisar Jika merasakan sakit di perut seperti maag dan mengalami rasa nyeri di titik boas (enthong), ada kemungkinan Anda mengalami gangguan empedu.

Selasa, 13 Mei 2008

Autis Tak Terkait Vaksin MMR?

Adanya keterkaitan antara kenaikan pada autis dan vaksinasi MMR baru-baru ini ditolak oleh sebuah penelitian yang menyatakan jika triple vaksin lebih aman dibanding prosedur tersebut.

Penelitian tersebut ditujukan pada pertumbuhan autis pada kanak-kanak untuk mendapat diagnosis tentang kondisi tersebut. Para peneliti yakin jika beberapa orang tua cenderung menyalahkan campak, gondok, vaksin ganda rubella untuk penyandang autis yang mungkin dipengaruhi oleh media.

Professor Brent Taylor dan rekannya dari Royal Free Hospital dan University College Medical School di London menuturkan jika kenaikan yang terjadi mulai tahun 1979 tersebut tidak nyata.

Ketakutan

Seperti yang tertera di Archives of Disease in Childhood, mereka menuturkan jika ketakutan tersebut masih sejalan dengan ketakutan MMR. Para peneliti menuturkan jika kenaikan tersebut mungkin disebabkan karena ‘peningkatan pengenalan serta tumbuhnya kemauan untuk menerima label diagnosa serta sistem catatan yang lebih baik.’

Pada 2001 silam,Autism Research Unit di University of Sunderland melaporkan kenaikan tenfold pada penderita autis lebih tajam dari sebelumnya. Kemungkinan hubungan antara MMR dan autisme terlebih dahulu diterbitkan tahun 1997 silam.

Ketidakpastian

Di tahun berikutnya Dr Andrew Wakefield, yang juga masih bekerja sama dengan Royal Free, mengatakan telah menemukan hubungan antara autisme dan masalah usus yang sangat berhubungan dengan vaksin.

Dr Wakefield sependapat jika vaksin MMR harus ditarik karena ketidak pastian keamanan pada vaksin tersebut. Sedangkan tim Professor Taylor menemukan sebelum para orang tua merasa khawatir dan ketakutan seperti rasa stress domestik, serangan virus yang memicu terjadinya autisme pada anak-anak mereka.

Namun sejak 1997 para orang tua telah menyadari hal tersebut dan memandang kelemahan vaksinasi terutama vaksin MMR.

Para pakar kesehatan pemerintah bersikeras menyatakan dengan tegas bahwa tak ada bukti yang mendukung teori tersebut dan memperingatkan para orang tua agar tak takut untuk memberi anak-anak mereka vaksinasi MMR.

Kurangi Risiko Kanker

Seringkali kita merasa bahwa penyakit kanker adalah penyakit yang sudah ditakdirkan adanya, sehingga kita hanya pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Memang sih penyakit ini dapat diturunkan alias dapat terjadi secara genetik.

Namun menurut Graham Golditz, MD, PhD, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa setengah dari penyakit kanker sebenarnya dapat dicegah. Anda perlu mengetahui kalau Anda mungkin memiliki kendali yang lebih besar daripada yang Anda kira selama ini.

Beberapa penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa faktor gaya hidup memainkan peranan yang lebih besar dibanding faktor keturunan terhadap sebagian besar penyakit kanker. Bahkan lima kanker yang paling banyak merenggut nyawa, memiliki sekian faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Demikian menurut sebuah laporan dalam jurnal Cancer Causes and Control.

Walaupun risiko bagi individu mulai terbentuk pada masa akil balik, tidak ada batasan usia untuk melakukan suatu perubahan gaya hidup. "Mengingat apa yang telah kita ketahui sejauh ini, tidak ada bingkai waktu yang tetap bagi perubahan perilaku. Dan bahkan perubahan gaya hidup yang sedang pun dapat membantu mengurangi risiko kanker anda dalam jangka waktu lama," ujar Karen Antman, MD, seorang pakar di bidang kedokteran dari Columbia University dan direktur Herbert Irving Comprehensive Cancer Center New York City.

Untuk memaksimalkan usaha-usaha pencegahan kanker Anda, ada beberapa langkah sederhana yang dapat Anda lakukan.

Untuk mengurangi risiko kanker paru:

- Hentikan kebiasaan menghisap rokok dan cerutu.

- Hindari merokok pasif sebanyak mungkin.

- Tingkatkan konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran hingga lima porsi

per hari.

- Lakukan tindakan-tindakan perlindungan yang direkomendasikan jika

Anda bekerja di pabrik asbes atau yang mengandung asbestos.

Untuk mengurangi risiko kanker payudara:

- Batasi konsumsi alkohol hingga satu minuman per hari.

- Turunkan berat badan yang berlebih.

- Berolahraga selama tiga jam atau lebih setiap minggu.

- Tingkatkan konsumsi beragam sayuran.

- Tingkatkan konsumsi lemak-lemak tak jenuh tunggal, seperti minyak

zaitun.

- Kurangi konsumsi lemak jenuh, seperti daging dan produk-produk yang berkadar lemak tinggi.

- Konsultasikan kepada dokter mengenai penggunaan kontrasepsi oral dan terapi penggantian estrogen.

Untuk mengurangi risiko kanker prostat:

- Tingkatkan konsumsi makanan-makanan yang berbahan dasar tomat.

- Kurangi konsumsi lemak jenuh, seperti daging dan berbagai produk berkadar lemak tinggi.

- Berolahraga selama tiga jam atau lebih setiap minggu.

Untuk mengurangi risiko kanker usus besar:

- Minumlah sebutir tablet aspirin berlapis setiap hari.

- Hentikan kebiasaan merokok.

- Batasi konsumsi alkohol menjadi satu minuman per hari.

- Turunkan berat badan yang berlebih.

- Berolahraga selama tiga jam atau lebih setiap minggu.

- Tingkatkan konsumsi bahan makanan yang kaya folat, seperti bayam, jus jeruk, dan sereal yang diperkaya.

- Tingkatkan konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran hingga lima porsi per hari.

- Kurangi konsumsi lemak jenuh, seperti daging dan produk-produk yang berkadar lemak tinggi.

- Lakukan pemeriksaan endoskopi secara berkala.

- Jika Anda seorang wanita, konsultasikan kepada dokter mengenai kontrasepsi oral dan terapi penggantian estrogen.

Untuk mengurangi risiko kanker pankreas (kelenjar ludah perut):

- Hentikan kebiasaan merokok.

- Tingkatkan konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran menjadi lima porsi per hari.

- Kurangi konsumsi karbohidrat-karbohidrat sederhana seperti roti tawar dan kentang.

Prof Indrayana Temukan Uji DNA Murah dan Akurat

Pakar DNA Prof DR Indrayana Notosoehardjo menyatakan penelitian yang dilakukannya bertahun-tahun telah menemukan uji DNA (Deoxyribo Nucleid Acid) atau metode biomolekuler yang mudah dan murah.

"Dulu, uji DNA itu mahal, tapi sekarang saya sudah menemukan metode pengecatan yang murah, kemudian untuk menentukan jenis kelamin pun sudah dapat dilakukan dengan meneliti tulang rahang," katanya di Surabaya, belum lama ini.

Menjelang pengukuhan dirinya sebagai guru besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada 4 Oktober lalu, ahli forensik RSUD dr Soetomo Surabaya itu menjelaskan ketepatan hasil penelitian yang dilakukannya juga sudah 100%.

"Untuk uji DNA di masa lalu melalui banyak tahap karena ada enam locus yang harus diuji, namun sekarang cukup dengan satu kotak bahan seharga Rp20 ribu untuk meneliti sekaligus menggandakan DNA," katanya.

Menurut staf pengajar FK Unair Surabaya itu, identifikasi secara antropologi forensik pun sekarang hanya Rp2 juta, padahal dulunya Rp10 juta.

"Kalau dulu mahal karena belum ada alat identifikasi yang baru dan mudah didapat, tapi sekarang sudah merupakan era biomolekuler, sehingga mudah dan murah. Uji DNA pun dilakukan jika antropologi forensik mengalami jalan buntu," katanya.

Bahkan, katanya, uji DNA saat ini sudah mampu meneliti jasad yang sudah membusuk, karena alat uji DNA untuk jasad yang membusuk sudah ditemukan yakni CT-AR.

"Dengan CT-AR, jasad yang membusuk dan hancur dapat diidentifikasi. Dulu, kita tak dapat melakukannya sehingga jasad Marsinah yang membusuk tak dapat diteliti, tapi sekarang sudah tak ada masalah," katanya.

Guru Besar Ilmu Kedokteran Forensik Unair kelahiran Sidoarjo pada 6 Nopember 1944 itu mengatakan CT-AR itu kini dimiliki Unair Surabaya dan tersimpan di TDC (Tropical Desease Center) kampus C Unair.

"Kami sudah mempraktekkan alat uji jasad yang membusuk dan hancur dalam tragedi bom Bali pada 2 Oktober lalu," katanya.

Ayah dua anak itu menambahkan kecanggihan alat dan metode dalam uji DNA dan indentifikasi forensik di Unair Surabaya itu sudah banyak dikenal di negara asing, sehingga saat ini ada mahasiswa Belanda yang belajar DNA.

"Saya juga dipercaya membantu ahli forensik Polisi Australia dalam identifikasi jasad pada tragedi bom Bali, padahal mereka sudah meminta bantuan ke Jakarta tapi tak ada tanggapan," katanya.

Bahkan, katanya, dirinya sempat diuji Polisi Australia untuk mengidentifikasi dua anak wanita asal Korea yang akhirnya berhasil dengan uji darah selama tiga hari dan uji gigi, sehingga tak perlu uji DNA.

Prof DR Indrayana dikukuhkan sebagai guru besar bersama dengan kandidat guru besar lainnya yakni Prof dr Soetjipto MS PhD yang meneliti Virus Hepatisi C (VHC) dengan pendekatan Biomolekuler.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Soetjipto menegaskan bahwa penularan VHC saat ini sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indoneisa, padahal vaksin untuk VHC belum ditemukan, karena itu perlu ada skrining ketat untuk donor darah dan suntikan narkoba serta tato

Diet Lemak Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?

Sebuah studi yang telah lama diacuhkan oleh para peneliti kini dibuka kembali, apakah wanita yang melakukan diet tinggi lemak rawan terkena risiko kanker payudara?

Sebuah studi menyatakan bahwa wanita yang mengkonsumsi rata-rata sekitar 90 gram lemak per harinya berisiko ganda dibandingkan yang hanya mengkonsumsi 37 gram lemak perharinya. Namun penemuan tersebut tampaknya mengundang kontroversial, karena banyak sekali terdapat perbedaan, dan sebuah studi menyatakan jika tak terdapat hubungan antara konsumsi lemak dan risiko terserang kanker.

Namun beberapa peneliti yang melakukan studi terakhir menyatakan jika penelitian sebelumnya bisa digunakan sebagai patokan untuk mengukur tipe diet kaum wanita.

Meskipun para penelitian yang lain menuturkan jika diet berperan kecil untuk menentukan apakah seorang wanita menderita kanker.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Lancet medical journal di Cambridge University, Inggris melakukan sebuah penelitian yang melibatkan sekitar 13.070 wanita yang melakukan diet mulai tahun 1993 sampai 1997.

Para peneliti tersebut memulai penelitian untuk memperbaiki penelitian sebelumnya bahwa diet tak ada hubungannya dengan risiko terkena kanker. Mereka menggunakan metode pengujian kebiasaan wanita dalam berdiet – menggunakan kuisener frekuensi makanan yang dikonmsumsi dan meminta para responden untuk selalu mencatat apa saja yang mereka konsumsi setiap hari.

Pada 2002, sekitar 168 wanita menderita kanker payudara, masing-masing kasus tersebut disesuaikan dengan empat waniat sehat yang berusia sama yang sebelumnya telah mengisi kuisener pada waktu yang sama dengan penderita kanker payudara tersebut.

Seluruh grup dibagi dalam lima kategori yang sama sekitar 170 sesuai dengan lemak yang mereka konsumsi tiap harinya. Dua metode digunakan untuk mengelompokkan wanita dalam satu dari lima kategori tersebut; salah satunya didasarkan pada kuisener dan yang lainnya pada catatan harian.

Kemudian para peneliti akan menghitung secara terpisah kedua metode tersebut, dengan perbedaan risiko kanker pada wanita yang jarang mengkonsumsi lemak dan wanita yang berlebihan mengkonsumsi lemak.

Efeknya memang tak terlihat dalam kuisener frekuensi makanan yang dikonsumsi, ujar Sheila Bingham, perwakilan direktur nutrisi manusia dari Cambridge University. Bingham menyebut kuisener tersebut metodenya sangat mentah dan tak dapat diandalkan.

Namun saat catatan harian digunakan untuk mengkategorikan para wanita tersebut, responden yang mengkonsumsi diet tinggi lemak berisiko dua kali terkena kanker payudara dibanding yang mengkonsumsi sedikit lemak.

Pada kategori terendah, sekitar 14% penderita kanker payudara dibandingkan dengan 20% dalam kelas tertinggi.

Semakin banyak lemak yang mereka konsumsi semakin tinggi juga risiko kanker yang mereka idap.

Para wanita yang mengkonsumsi lemak berkadar tinggi dipandang bukan karena risiko kegemukan yang mereka idap namun lebih karena risiko kanker payudara, seperti berat tubuh dan total kalori yang mereka konsumsi, wanita yang mengkonsumsi lemak jenuh cenderung mengalami dua kali risiko menderita kanker daripada mereka yang sedikit mengkonsumsi lemak.

Pada umumnya para wanita melakukan diet lemak jenuh, sehingga asupan total lemak cenderung seimbang.

Marji McCullough, seorang pakar epidemiology pada American Cancer Society menyatakan bahwa para peneliti tersebut tak setuju dengan hasil kuisener ataupun catatan harian (food diary) yang memang kurang akurat.

Sampai sekarang banyak sekali kita temui studi tentang kanker tersebut, sebut saja penelitian terbaru yang menggabungkan sekitar 7000 kasus kanker dalam delapan penelitian dan menemukan bahwa tak ada risiko yang ditimbulkan karena konsumsi lemak.

“Jika Anda mempertimbangkan bukti-bukti tersebut, Anda akan berasumsi bahwa sedikit sekali lemak yang menyebabkan kanker, tambah McCullough.

Namun, Dr. Elio Riboli, seorang ahli gizi dan kanker menuturkan,”Penelitian ini membuka kembali seluruh penelitian serta hipotesa yang pernah dilakukan sebelumnya untuk mendapat hasil yang lebih baik pada hipotesa apakah lemak jenuh memicu timbulnya kanker.”Seorang wanita cenderung mengembangkan kanker payudara dalam hidupnya sekitar 8% dan 11%, menurut World Health Organization (WHO).

“Artikel ini adalah langkah awal untuk mengidentifikasi penentu diet terhadap risiko kaker payudara,” ujar Riboli, yang bekerja sama dengan International Agency for Research on Cancer milik PBB. “Menggandakan atau mengurangi sekitar 50% risiko kanker tersebut dapat menyelamatkan wanita dari risiko kanker setiap tahunnya.

Banyak sekali studi sebelumnya yang berpatokan pada diet pada kanker payudara dan membandingkan mereka dengan pola makan makan wanita sehat pada usia yang sama, dan hasilnya menyebutkan jika diet tinggi lemak atau lemak jenuh – lemak produk hewani seperti daging, ikan serta produk-produk susu – kecil sekali kaitannya meningkatkan risiko kanker payudara. Meskipun percobaan di laboratorium juga menunjukkan bahwa asupan lemak jenuh dapat memicu risiko kanker payudara.

Sayang begitu banyak penelitian yang dilakukan yang melibatkan para wanita sehat masih gagal menemukan hubungan lemak dan risiko kanker payudara

Ayah Manula Berisiko Kena Schizephrenia

Anak-anak yang memiliki ayah manula berisiko kena schizophrenia pada usia lanjutnya.

Hal itu kemungkinan karena adanya mutasi gen sang ayah, menurut hasil riset terbaru dari Swedia, yang dipublikasikan belum lama.

Kaitan antara usia tua dan schzophrenia telah disebut-sebut sebelumnya, tetapi tidak dapat dipastikan apakah itu karena meningkatnya mutasi dengan bertambahnya umur atau karena faktor keturunan.

Untuk mencari jawabannya, University of Wales College of Medicine di Cardiff, Inggris, dan Gothenburg University di Swedia memeriksa catatan medis 50.087 wamil Swedia yang direkrut pada 1969 dan 1970.

Temuan mereka, yang dilaporkan di British Journal of Psychiatry, memperlihatkan 362 bekas tentara itu mengalami schizophrenia pada 1996. Umur ayah mereka bervariasi antara 19 dan 65. Dalam kelompok pria yang kena penyakit itu, ayah mereka berusia antara 15 dan 75 tahun.

Studi itu menyimpulkan perkembangan schizophrenia naik 30% untuk setiap 10 tahun kenaikan usia sang ayah.

"Data ini mendukung hipotesa bahwa akumulasi mutasi sel kuman mungkin menimbulkan kenaikan pada kecenderungan genetik ke schizophrenia pada keturunannya," ujar Stanley Zammit dari University of Wales.

Serum Dapat Sembuhkan Sejumlah Pasien SARS

Serum yang diambil dari darah pasien pengidap sindrom pernafasan sangat akut (SARS) telah menjadi obat penangkal yang cukup efektif dalam mengobati beberapa pasien yang sebelumnya tidak memberikan reaksi terhadap obat anti-virus, dokter Hong Kong mengatakan Rabu.

Namun mereka mengatakan sejauh ini uji secara standard akan diperlukan untuk membuktikan pengobatan dengan serum tersebut dapat dijadikan sebagai pengganti pengobatan sebelumnya yaitu pemberian Ribavirin dan steroid.

Dokter Gregory Cheng, profesor ahli terapi kedokteran di Universitas Cina mengatakan bahwa 20 orang pasien yang gagal merespons terhadapat pengobatan Rivabirin, diberikan serum SARS, sementara 20 pasien lainnya menerima steroid dalam dosis tinggi.

Serum SARS diambil dari pasien SARS yang telah dikembangkan antibodinya setelah dinyatakan sembuh dari penyakit yang mematikan itu.

"Dari mereka yang diberi serum sebagian besar sembuh dan dapat kembali pulang ke rumah setelah menjalani perawatan selama 21 hari," kata Cheng sambil mengatakan pengobatan dengan pemberian serum sejauh ini tidak menunjukkan adanya efek samping.

Sejak SARS dinyatakan mewabah pertama kali tujuh pekan lalu tercatat 193 orang meninggal sementara 1.646 orang terinfeksi.

Kenaikan jumlah penderita ke tingkat parah telah menimbulkan kekhawatiran dan keraguan akan keefektifan pemberian obat anti-virus Rivabirin yang membawa efek samping yang cukup serius yaitu kerusakan pada hati dan jantung.

Cheng mengatakan 70 orang pasien yang menerima serum 70% diantaranya sembuh setelah melewati perawatan 21 hari namun hal ini tidak dapat membuktikan bahwa pengobatan dengan serum benar-benar efektif.

Ia mengatakan pasien yang sudah lama dirawat di rumah sakit dan dalam keadaan stadium lanjut tidak menunjukkan hasil yang diharapkan karena itu ia mengatakan sejumlah tes dan penelitian tingkat lanjut perlu dilakukan tetapi pengobatan dengan serum dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif.

Sementara itu pihak Gereja Katolik Roma Filipina memerintahkan Rabu agar Gereja menenangkan umatnya yang dicekam ketakutan dan kepanikan akibat rasa takut berlebihan akan SARS.

Uskup agung Jaime Sin mengatakan hal yang dapat kita lakukan adalah menenangkan para jemaat kita bahwa tidak perlu panik dan ketakutan menghadapi wabah itu.

"Kondisi seperti ini akan membawa masyarakat kita kedalam keadaan yang berisiko tinggi karena kurangnya informasi dan penerangan tentang penyakit itu,

Departemen kesehatan Filipina melaporkan tujuh kasus terinfeksi baru Selasa kemarin sehingga jumlah penderita di Filipina menjadi 10 orang.