Rabu, 17 September 2008

Film Biru, Seberapa Perlu?

"Ih, jijik. Saya nggak mau nonton film gituan. Kalau sampai suami mengajak saya nonton, pasti akan saya tolak. Buat apa?" ujar Anggi, bukan nama sebenarnya, yang baru setahun menikah. Sementara Rini, juga bukan nama sebenarnya, malah bersikap sebaliknya. Ibu satu anak ini mengaku, gairahnya jadi meningkat setelah menikmati film jenis itu. "Saya sebetulnya bukan orang yang gampang bangkit gairahnya. Tapi setelah beberapa kali diajak nonton suami, entah kenapa, saya kemudian, kok, jadi bergairah. Sejak itu saya baru bisa menikmati hubungan seksual kami," papar wanita 34 tahun ini.

Memang, tak sedikit orang yang merasakan manfaat nonton film biru atau yang biasa dikenal dengan BF. Entah dalam soal peningkatan gairah atau dorongan seks maupun dalam hal variasi posisi dan gaya. Bahkan, ada yang bisa merasa terpuaskan hanya dengan nonton BF. Sebaliknya, tak sedikit pula orang yang tak suka BF, merasa jijik, dan bahkan terhina, atau malah menganggap pasangannya mulai "tak waras" karena mengajaknya nonton film jenis itu sebelum mereka berhubungan seks.

Jika Anda rajin menyimak rubrik konsultasi seks di sejumlah media cetak, cukup banyak pembaca yang mempertanyaan soal penggunaan BF ini. Umumnya, mereka cenderung memandang negatif dan menganggapnya sebagai film porno yang tak layak ditonton. Lantas, bagaimana sebenarnya?

BANGKITKAH GAIRAH
Dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG, MARS tak mengelak, banyak pasangan merasa jijik melihat film biru. Tapi, "Kenyataannya mereka juga membutuhkan, kok!" tukas ahli kebidanan & penyakit kandungan yang belakangan lebih dikenal sebagai konsultan seks ini. Bahkan, sambungnya, data penelitian menunjukkan, hampir 97 persen remaja di Indonesia sudah pernah menontonnya. "Khususnya bagi pasangan suami-istri, masyarakat harus mulai belajar bahwa film biru tak selalu membawa dampak negatif." Dari situ, lanjut Boyke, "suami-istri bisa mendapatkan banyak manfaat untuk mengatasi kejenuhan hubungan mereka."

Menurut Boyke, ada beberapa syarat hubungan seks yang sehat. Yang nomor satu, seks harus dilakukan dalam ikatan perkawinan. Selanjutnya, dilakukan dengan cinta dan lewat komunikasi intim, serta dengan teknik dan variasi. Juga, harus ada keterlibatan emosi.

Agar gairah seks tetap bisa dipertahankan, dibutuhkan suasana hati atau mood. Jika pasangan sudah mengalami kejenuhan, maka mungkin perlu variasi. "Nah, film biru bisa dijadikan alternatif untuk membangkitkan mood pasangan," kata Boyke. Apalagi, seperti dikatakan Dr. Gerard Paat, MPH dari RS Sint. Carolus dalam kesempatan berbeda, "Film biru memiliki aspek perangsangan. Suami atau istri yang respon seksnya pelan, bisa dipercepat dengan menontonnya."

Boyke melihat, film biru diperlukan hanya sebagai bagian dari alat bantu. Sama halnya seperti melakukan hubungan seks dengan iringan musik, atau melakukannya di bawah lampu temaram, di kamar mandi, dan sebagainya. "Seks memang membutuhkan variasi tempat atau suasana, teknik, dan alat bantu untuk perangsangan. Nah, alat bantu ini bisa bermacam-macam, salah satunya film biru," jelas pengasuh acara konsultasi seks di sebuah radio swasta ini.

Selain itu, ia juga bisa menjadi sumber informasi. "Banyak pria yang sangat konservatif dan hanya 'main tembak langsung'. Nah, dengan melihat film jenis itu, ia akan mengetahui bagaimana cara berhubungan seks yang benar," kata Boyke.

JANGAN NYANDU
Kendati demikian, pasangan suami-istri tetap harus waspada dan sadar, bahwa tak semua film biru layak ditonton. Boyke menganjurkan, "Pilih film-film yang mempunyai alur cerita atau film yang memang menyajikan pendidikan seks. Jadi, tak semata menggambarkan hubungan seks, melainkan menggambarkan pula pentingnya misalnya foreplay, ruangan, atau musik pengiring saat berhubungan seks." Dengan begitu, orang bisa belajar betapa penting romantisme atau keterlibatan emosi dalam suatu hubungan seks. Dengan kata lain,bukan nafsu belaka.

Baik Boyke dan Gerard juga mengingatkan, "Jangan sampai menonton film biru menjadi candu!" Apalagi jika suami kemudian tak lagi mau berhubungan seks dengan istri, karena baginya film biru lebih menarik. Lebih celaka lagi, pria yang sudah kecanduan film biru, seperti diujarkan Boyke dan Gerard, akan lebih mudah berselingkuh. "Ada hubungan antara seringnya pria nonton film biru dengan kemungkinan ia berselingkuh," kata Gerard.

Lo, kok, bisa? "Pasalnya, apa yang dilihat suami di film, hampir 95 persen tak ditemukan pada istrinya," ungkap Gerard. Hal senada dikatakan Boyke, "Mungkin suami tak mendapatkan apa yang ia inginkan dari istrinya. Bisa saja karena istrinya terlalu konservatif. Nah, kebetulan suami bertemu dengan wanita lain yang bisa memenuhi keinginannya, akhirnya mereka berselingkuh."

Apalagi, sambung Gerard pada kesempatan terpisah, umumnya wanita tak begitu menyukai hubungan seks yang eksplisit. "Bagi mereka, itu bukan sesuatu yang menarik. Nah, jika suami berselingkuh dengan wanita yang mengerti keinginan pria, maka ia akan meniru apa yang dilihatnya di film dengan wanita teman selingkuhnya," tutur konsultan seks ini.

KOMUNIKASI DENGAN ISTRI
Begitulah, menonton film biru, kata ahli, boleh-boleh saja sepanjang dilakukan oleh pasangan suami istri. Tapi, itu pun hanya boleh dilakukan sesekali saja. "Jangan setiap kali mau berhubungan seks selalu menonton. Itu artinya sudah terobsesi!" tandas Boyke.

Selain itu, sebelum menonton, Boyke menganjurkan agar pasangan sebaiknya berkomunikasi lebih dulu. Jika istri menolak, suami harus bisa mengerti. Sebaliknya, istri juga harus menyadari bahwa pria memiliki fantasi-fantasi liar yang bisa terpenuhi lewat film sejenis itu. "Semua tergantung bagaimana kita menjalin komunikasi, kok!" tukas penulis buku seputar masalah seks dan organ intim ini.

Gerard pun sependapat, "Komunikasi memang sangat diperlukan sebelum memutuskan menonton atau tidak. Jika istri tak mau, ya, jangan dipaksa. Tentu istri juga harus toleran. Jika memang suami tak bisa terangsang tanpa melihat film biru, istri harus bisa mengerti. Yang penting, dibatasi hanya untuk meningkatkan mood saja."

JADI SALAH PERSEPSI
Hal lain yang harus diperhatikan, kata Gerard, suami-istri sudah harus tahu mana yang benar dan mana yang tidak sebelum menonton film biru. Soalnya, tak sedikit film jenis itu dibuat bukan dengan tujuan memperbaiki suatu hubungan seks yang kurang baik atau untuk menambah hubungan seks yang sudah baik. "Banyak, kok, yang dibuat hanya semata bersifat komersial. Oleh karena itu, pembuatannya pun tak ilmiah," ujar konsultan perkawinan ini.

Karena tidak ilmiah, lanjut Gerard, film biru bisa menimbulkan suatu persepsi yang keliru tentang salah satu aspek seksual, khususnya dalam hubungan seks pria-wanita. "Persepsi yang keliru ini bisa menimbulkan perilaku yang keliru pula," tandasnya. Misalnya saja, dalam film digambarkan, semakin besar ukuran alat kelamin pria, semakin jantanlah dia. "Akibatnya, setelah menonton, alat vital suami yang sebetulnya berukuran normal, bisa-bisa dianggap kurang oleh istri. Dan jika itu diucapkan istri di hadapan suami, jangan salahkan suami bila ia tersinggung dan harga dirinya hancur," kata Gerard.

Belum lagi, tambah lulusan FKUI ini, film biru juga bisa menimbulkan ide "bengkok" tentang hal-hal yang secara ilmiah sudah dibenarkan. Contohnya tentang ukuran penis yang sebetulnya tak berpengaruh terhadap kepuasan seks wanita. "Kepuasan seks wanita tak ditentukan dari besar-kecil ukuran alat kelamin pria. Tapi karena di film digambarkan begitu, istri jadi salah persepsi," ujarnya.

Selain tak ilmiah, banyak film biru yang dibuat dengan kualitas tak baik dan pengambilan gambar diatur sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan hebat. "Dengan kata lain, ada unsur penipuan demi komersialisasi," papar Gerard.

Unsur positif dan negatif, memang selalu ada dalam setiap hal. Begitu pula pada film biru. Ia akan menjadi positif bila kita berangkat dari paradigma yang positif dan menggunakannya untuk hal-hal yang positif pula.

Senin, 08 September 2008

Poligami Bikin Pria Panjang Umur?

INGIN hidup berumur panjang? Cobalah untuk memiliki istri kedua, atau bahkan lebih. Anjuran ini sepertinya mengada-ada, tetapi bisa jadi ada benarnya apabila menyimak hasil kesimpulan sebuah riset yang dilakukan ahli ekologi Inggris, Virpi Lummaa.

Ilmuwan dari Universitas Sheffield itu belum lama ini mempresentasikan temuannya tentang hubungan poligami dan umur panjang dalam pertemuan tahunan International Society for Behavioral Ecology’di Ithaca, New York, Amerika Serikat.

Menurut hasil riset Lummaa yang juga dimuat majalah New Scientist, pria yang menganut poligami rata-rata memiliki usia lebih panjang di bandingkan mereka yang hanya beristri satu. Kesimpilan ini diambil setelah memperhitungkan beragam faktor seperti perbedaan status sosial ekonomi.

Riset menunjukkan, pria berusia di atas 60 tahun di 140 negara penganut poligami dengan derajat kehidupan bervariasi tercatat berusia 12 persen lebih panjang di bandingkan para pria yang tinggal di 49 negara yang dikenal kuat menganut monogami.

Lummaa menjelaskan, pria yang menjalani poligami bisa lebih panjang usianya kemungkinan karena faktor sosial dan genetika. Pria yang terus berjuang menghidupi anak-anak dan istrinya walau sudah memasuki usia 60 atau 70-an kemungkinan lebih baik dalam menjaga kebugaran dan kesehatannya.

Ini pun tidak terlepas dari tekad dan tanggung jawabnya untuk menafkahi anak-anak dan istiri-istrinya. Namun begitu, lanjut Lummaa, kekuatan evolusi yang terjadi selama ribuan tahun juga patut diperhitungkan sebagai penyebab panjangnya usia pria yang hidup dengan budaya poligami.

Dalam risetnya, Lummaa menggunakan data Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization). Ia bersama rekannya, Andy Russell, meneliti para pria di atas 60 tahun yang tinggal di 189 negara dan mengelompokkannya dalam empat skala yakni dari tingkat 1 untuk kategori sangat monogami hingga paling poligami untuk skala 4.

Ia juga memperhitungkan produk domestik bruto setiap negara dan rata-rata pendapatannya guna meminimalisir pengaruh faktor kualitas nutrisi dan pelayanan kesehatan di negara-negara Barat yang menganut monogami.

Minggu, 07 September 2008

Serat Hadang Preeklamsia

MAKANAN berserat bagi ibu hamil ternyata bisa berarti sangat penting. Menambah asupan serat dalam menu makanan sehari-hari terbukti dapat menurunkan risiko mengidap preeklamsia.

Sebuah riset yang dimuat American Journal of Hypertension menunjukkan, wanita hamil yang meningkatkan asupan seratnya sebanyak 5 gram sehari—setara dengan 2 helai roti gandum murni—mengalami penurunan risiko preeklamsia sekitar 14 persen.

Dr Chunfang Qiu dan timnya dari Swedish Medical Center di Seattle, Washington, melaporkan hasil temuan bahwa tingginya asupan serat sebelum dan selama awal kehamilan dapat menurunkan risiko preeklamsia secara signifikan di antara 1.538 wanita hamil yang mereka pantau.

Qiu mengumpulkan data tentang asupan serat dalam kurun 3 bulan sebelum dan selama awal kehamilan dari para partisipan yang kehamilannya tidak mengalami komplikasi. Selama riset, tercatat 64 partisipan mengidap preeklamsia.

Dari hasil analisis terungkap, wanita yang mengonsumsi sedikitnya 21,2 gram serta per hari risikonya 67 persen lebih rendah mengidap preeklamsia dibanding mereka yang asupan seratnya kurang dari 11,9 gram sehari. Peneliti mencatat bahwa setiap penambahan 5 gram asupan serat dalam sehari berarti dapat menurunkan risiko preeklamsia hingga 14 persen.

Perhitungan ini diambil setelah peneliti mempertimbangkan faktor lainnya yang berpotensi memicu preeklamsia seperti asupan energi total, usia kehamilan, ras/etnis, jumlah kehamilan, dan berat badan sebelum kehamilan. Selain itu, wanita yang asupan seratnya paling tinggi kadar trigliseridanya tercatat 12 poin lebih rendah dan kadar HDL-nya (kolesterol baik) 2,6 poin lebih tinggi dibanding wanita yang asupan seratnya rendah.

Preeklamsia merupakan suatu kondisi berbahaya pada wanita hamil dan penyebab utama kelahiran prematur. Preeklamsia ditandai dengan peningkatan tekanan darah, pembengkakan pada wajah dan tumit, serta adanya protein dalam urine. Preeklamsia dialami satu dari 10 wanita hamil. Bayi dari ibu yang mengalami preeklamsia kebanyakan lahir prematur dan terganggu perkembangannya.

Minum Kopi Hindarkan Kanker Rahim

MINUM kopi ternyata tidak hanya akan membuat Anda tetap semangat dalam beraktivitas. Khusus bagi Anda para wanita, kopi bisa jadi mendatangkan faedah yang sangat besar bagi kesehatan organ reproduksi.

Sebuah riset ilmuwan Jepang belum lama ini mengindikasikan bahwa kebiasaan minum kopi dapat menjauhkan wanita dari kanker yang sangat menakutkan yakni kanker rahim. Dengan meminum kopi secara teratur, risiko perempuan tercatat lebih rendah mengalami kanker yang mematikan ini.

Riset yang digagas Kementrian Kesehatan Jepang ini dilakukan dengan memantau sekitar 54.000 wanita berusia 40 hingga 69 selama sekitar 15 tahun. Para ahli dari Pusat Kanker Nasional Jepang membagi para wanita menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat konsumsi kopi. Selama penelitian berlangsung, tercatat sekitar 117 wanita positif mengalami kanker rahim.

Hasil penelitian menemukan, kelompok wanita yang minum kopi lebih dari tiga cangkir sehari tercatat berisiko 60 persen lebih kecil mengidap kanker rahim dibandingkan mereka yang meminum kopi kurang dari dua kali dalam seminggu.

“Kopi dapat menimbulkan pengaruh menekan kadar insulin, sehingga mungkin dapat menekan risiko mengidap kanker rahim,” ungkap peneliti dalam laporannya.

Selain meneliti konsumsi kopi, tim peneliti juga menelaah efek teh hijau terhadap kanker rahim . Tetapi mereka tidak menemukan hubungan antara teh hijau dengan penurunan risiko kanker rahim.

Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada lapisan endometrium (servik uterus), yaitu suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina).

Kanker rahim biasanya terjadi setelah masa menopause, paling sering menyerang wanita berusia 50-60 tahun. Tetapi kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita berumur 20 sampai 30 tahun. Untuk pasien yang lebih tua, mereka lebih berpeluang meninggal akibat penyakit ini, dikarenakan penyakit mereka stadium nya lebih tinggi.

Enam Mitos Seputar Tidur

TANPA disadari, salah kaprah juga sering kita alami pada salah satu aktivitas yang paling dibutuhkan tubuh sehari-hari yaitu tidur. Di antaranya, ada anggapan bahwa tidur yang terbaik adalah delapan jam setiap hari atau ada pula yang mengklaim kekurangan tidur bsia 'dibayar' pada akhir pekan. Nah, sejauh mana kebenaran soal mitos-mitos seputar tidur ini, berikut penjelasannya :

1. Yang terbaik, delapan jam setiap hari.
Sebenarnya tak ada yang spesial dari angka delapan. Menurut psikolog dari New York University, Joyce Walsleben, Ph.D., penulis A Woman's Guide to Sleep, setiap orang punya kebutuhan yang berbeda dan Anda akan menyadari cukup tidur ketika tak merasa mengantuk berat di siang hari.

2. Jika bisa mendapatkannya, tidur lebih banyak biasanya lebih sehat.
Kenyataannya tidak demikian. Sejumlah riset mengungkap orang yang tidur lebih dari delapan jam semalam meninggal dalam usia lebih muda ketimbang mereka yang tidur selama enam hingga delapan jam. Apa yang belum dapat diungkap para ilmuwan adalah : apakah tidur lebih lama menyebabkan pengaruh buruk bagi kesehatan atau menimbulkan gejala seperti itu, kata Najib Ayas, M.D., MPH, asisten profesor medis di University of British Columbia. Yang jelas, orang yang kebanyakan tidur biasanya disebabkan beberapa gangguan kesehatan seperti sleep apnea, depresi, diabetes yang tak terkendali.

3. Ada orang yang cukup tidur empat jam saja.
Tokoh legendaris yang dikenal biasa tidur singkat — seperti Bill Clinton, Madonna, dan Margaret Thatcher — ternyata tidak selalu dapat mengatasi masalah kurang tidur. "Mereka sebenarnya hanya tak sadar betapa besar rasa kantuk yang dirasakan," ungkap Thomas Roth, Ph.D., peneliti dari Henry Ford Hospital di Detroit.

Tidur yang terlalu sedikit jelas dapat memberi pengaruh negatif bagi kesehatan selain juga citra Anda. Kurang tidur membuat aktivitas Anda menjadi terganggum tidak efektif, menyebabkan sakit (memperlemah sistem imun), dan memicu obesitas.

4. Bangun tengah malam menyebabkan Anda lemas seharian.
Kenyataannya bisa sebaliknya. Bangun di tengah malam bisa menjadi siklus alami seseorang. Tak sedikit binatang yang tidur dengan cara seperti ini dan banyak indikasi bahwa nenek moyang kita juga melakukannya, seperti terjaga di malam hari untuk melakukan seks, kata Thomas Wehr, M.D., ilmuwan dari National Institute of Mental Health.

5. Anda butuh obat resep jika menderita insomnia setiap malam
Obat tidur didesain untuk gangguan tidur sementara atau jangka pendek, yang disebabkan stress seperti dipecat dari pekerjaan atau melakukan penerbangan transatlantik. Pasien yang mengalami gangguan tidur jangka panjang biasanya ditangani melalui cognitive behavioral therapy. Terapi ini dilakukan dengan cara melatih kembali persepsi tentang tidur dan belajar membiasakan tidur yang baik seperti pergi ke kamat tidur pada jam yang sama setiap malam, menghindari tayangan TV dan komputer sebelum tidur dan tak minum kafein setidaknya enam jam sebelum tidur, dan perubahan gaya hidup lainnya

6. Anda bisa membayar tidur pada akhir pekan.
Membayar kekurangan tidur pada akhir pekan karena sering begadang — apa yang disebut ahli tidur dari Harvard Robert Stickgold, Ph.D., sebagai "sleep bulimia" — dapat mengejutkan ritme biologis Anda dan membuat lebih sulit untuk mencapai tidur yang menyegarkan. Tidur hingga siang bolong pada hari Minggu bisanya dapat mencegah Anda kembali tertidur pada jam 10 malam hari tersebut. Oleh sebab itu, alih-alih membayar kekurangan tidur dari pekan sebelumnya, Anda justru menyetel atau menciptakan siklus tanpa tidur untuk sepekan ke depan. "Tubuh kita mencintai konsistensi," kata Donna Arand, Ph.D., jurubicara American Academy of Sleep Medicine. Jadi, yang terbaik adalah bangun pada jam yang sama setiap hari, bahkan di akhir pekan sekalipun.

Sulit Tidur? Menyingkirlah dari Tempat Tidur!

SULIT tidur di malam hari kerap kali mengganggu kita. Ini bisa mengakibatkan kondisi yang tidak segar dan bugar saat kita bangun. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk bisa tidur kembali dengan nyenyak dan nyaman, salah satunya dengan meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas sederhana.

Pertama-tama, Anda harus pergi dari tempat tidur. Kemudian, cobalah membaca, menjahit atau bisa juga menggambar. Dalam waktu yang tak terlalu lama, paling cuma lima belas hingga dua puluh menit, tubuh akan terasa capai dan bosan. Pada saat itulah, Anda harus segera pergi ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun karena Anda akan terjaga lagi sampai pagi.

Bugar Bagi Manula yang Berpuasa

Bagi kaum lanjut usia atau manula, banyak hal yang harus diperhatikan saat menjalankan ibadah puasa. Salah satunya adalah kalori yang dibutuhkan saat berpuasa. Pemenuhan kebutuhan kalori manula yang berpuasa harus sama dengan kebutuhan saat mereka tidak berpuasa.

Jenis makanan yang dikonsumsi pun harus seimbang. Pilihan yang baik adalah jenis makanan yang lebih lama dicerna yaitu karbohidrat kompleks seperti nasi, roti, dan makanan tinggi serat antara lain sayuran dan buah. Makanan ini dikonsumsi saat sahur. Sedangkan makanan yang lebih cepat dicerna yaitu karbohidrat sederhana seperti gula, sebaiknya dibatasi konsumsinya saat sahur.

Bagi manula yang memiliki riwayat penyakit, masih diperbolehkan berpuasa. Karena Ramadan merupakan bulan latihan pengaturan dan pengendalian diri, maka aturlah asupan makanan dan disiplinkan diri. Saat puasa, makan dan minum dibatasi sehingga pola makan, jumlah, dan jenis makanan orang berpuasa berbeda dengan kebiasaan sehari-hari.

Dari penelitian oleh Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM pada tahun 1997, diketahui bahwa seseorang yang berpuasa akan berkurang asupan makanannya 12 persen dari asupan makanan sehari-hari. Sejumlah penelitian lainnya pada orang usia lanjut menunjukkan bahwa puasa memberi pengaruh baik bagi kesehatan. Orang berusia lanjut yang berpuasa juga tidak terganggu fungsi ginjalnya selama asupan cairan terpenuhi.

Penelitian lainnya menyebutkan, setelah berpuasa, ada penurunan kadar kolesterol total, kadar kolesterol LDL, trigliserida, dan asam urat. Kadar radikal bebas (zat yang merusak sel di dalam tubuh) juga menurun, sedangkan kadar antioksidan yang dibutuhkan tubuh meningkat. Puasa juga tidak berpengaruh negatif pada penderita diabetes melitus selama mengikuti petunjuk yang diberikan. Seseorang yang berpuasa akan merasa tenang sehingga kadar gula darah lebih stabil.

Bagaimana puasa yang baik untuk manula? Inilah dia :

1. Pola makan yang dianjurkan ketika berpuasa adalah 40 persen kalori saat sahur, 50 persen kalori saat berbuka puasa yang dibagi jadi dua yaitu makanan ringan atau segar saat berbuka sebelum salat Magrib, dan makanan padat atau besar setelah salat Maghrib. Sedangkan 10 persen kalori berupa makanan kecil yang dikonsumsi sesudah salat Tarawih.

2. Obat-obatan yang harus diminum — jika memiliki masalah kesehatan — perlu dipantau dan diatur kembali jadwal minumnya.

3. Kebutuhan cairan harus cukup. Perlu sekitar 30-50 cc per kilogram berat badan setiap hari (8-10 gelas) agar terhindar dari kekurangan cairan.

4. Perbanyak konsumsi air atau jus buah di antara berbuka puasa dan sebelum tidur. Hindari konsumsi teh terlalu banyak karena merangsang pengeluaran urine sehingga garam mineral yang dibutuhkan tubuh pada siang hari akan terbuang.

5. Konsumsi makanan mudah cerna seperti nasi, roti, dan makanan tinggi serat seperti sayuran dan buah. Hindari makanan berlemak dan yang digoreng.